Danramil Terisi Kapten Asep Mulyana Hadiri Mapag Sri LSM Ampera, Ratusan Petani Tumpah Ruah Rayakan Tradisi Syukur Panen
Indramayu – Semangat kebersamaan dan kearifan lokal kembali terasa kuat dalam kegiatan adat Mapag Sri yang digelar oleh LSM Ampera di Desa Loyang, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Rabu (29/4/2026). Acara yang berlangsung sejak pagi hari ini dipadati ratusan petani dan tokoh masyarakat sebagai bentuk rasa syukur menjelang musim panen.
Kegiatan yang dilaksanakan di Sekretariat Ampera, Blok 4 Desa Loyang ini dihadiri langsung oleh Danramil 1613/Terisi, Kapten Inf Asep Mulyana, yang turut memberikan dukungan terhadap pelestarian tradisi sekaligus memperkuat sinergi antara aparat dan masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Umum LSM Ampera, Ahmad Subarjo, Kuwu Desa Loyang Nono Madani, Babinsa Desa Loyang Kopda Saep, serta tokoh agama KH Anwar Musyadad. Selain itu, perwakilan dari Polsek Cikedung yang diwakili Brigadir Wixi Haw dan BPP Kecamatan Cikedung Ibu Retno juga tampak mengikuti jalannya acara.
Sejak pukul 08.00 WIB, sekitar 200 petani yang tergabung dalam komunitas Ampera sudah memadati lokasi kegiatan. Mereka mengikuti rangkaian acara dengan penuh khidmat, yang menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi sekaligus doa bersama agar panen mendatang berjalan lancar dan melimpah.
Kapten Inf Asep Mulyana dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa tradisi Mapag Sri memiliki nilai penting dalam menjaga keseimbangan antara budaya, spiritualitas, dan kehidupan sosial masyarakat.
“Kegiatan seperti ini bukan hanya tradisi, tetapi juga bentuk kebersamaan dan rasa syukur masyarakat. TNI sangat mendukung pelestarian budaya lokal yang memperkuat persatuan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kehadiran TNI dalam kegiatan masyarakat merupakan bagian dari pembinaan teritorial untuk menjaga kedekatan dengan warga sekaligus memastikan setiap kegiatan berjalan aman dan tertib.
Ketua Umum LSM Ampera, Ahmad Subarjo, mengungkapkan bahwa Mapag Sri menjadi agenda rutin yang terus dilestarikan oleh komunitasnya. Ia menilai tradisi ini tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memperkuat solidaritas antarpetani.
“Ini adalah bentuk syukur kami sebagai petani. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan mempererat persaudaraan,” katanya.
Kuwu Desa Loyang, Nono Madani, turut mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap tradisi seperti ini dapat terus dijaga oleh generasi muda agar tidak hilang tergerus zaman.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini karena menjadi bagian dari identitas desa dan warisan leluhur,” ujarnya.
Kegiatan juga diisi dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, KH Anwar Musyadad, sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan agar masyarakat diberikan keberkahan dan hasil panen yang melimpah.
Kehadiran berbagai unsur, mulai dari aparat keamanan, pemerintah, hingga tokoh masyarakat, menunjukkan kuatnya sinergi dalam menjaga tradisi dan keharmonisan sosial di tengah masyarakat.
Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman, tertib, dan lancar. Tidak hanya menjadi ajang budaya, Mapag Sri juga menjadi momentum penting dalam memperkuat hubungan antara masyarakat dan aparat.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai lokal masih hidup dan terus dijaga. Di tengah modernisasi, masyarakat Desa Loyang tetap mempertahankan identitas budaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dengan dukungan berbagai pihak, kegiatan seperti ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.
