Koptu Iwan Kawal Sengit Musyawarah Air di Dukuhjati, Petani dan PT SBL Sepakat Cegah Limbah Masuk Sawah!
September 26, 2026
INDRAMAYU– Ketegangan yang sempat menghantui para petani di Desa Dukuhjati, Kecamatan Krangkeng, akhirnya menemukan titik terang. Pada Sabtu (26/9/2026) pukul 09.30 WIB, Balai Desa Dukuhjati menjadi saksi bisu sebuah perundingan strategis antara warga, pemerintah desa, dan pihak industri. Di bawah pengawalan ketat Koptu Iwan, Babinsa Desa Dukuhjati, musyawarah rencana perubahan saluran pengairan yang berada di sekitar kawasan PT SBL (dan terkait dengan PT Pilar) digelar dengan suasana demokratis namun tegas. Agenda utama: memastikan kelangsungan pertanian rakyat tidak terganggu oleh aktivitas industri, sekaligus mencari solusi win-win solution bagi kedua belah pihak.
Kehadiran Koptu Iwan dalam forum ini bukan sekadar formalitas protokoler. Sebagai representasi TNI AD dari Koramil setempat, ia hadir untuk menjamin bahwa suara petani—yang merupakan tulang punggung ketahanan pangan daerah—tidak terpinggirkan oleh kepentingan korporasi. Dalam laporannya kepada Dandim 0616/Indramayu, tergambar jelas bahwa sinergitas lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan acara ini. Forum tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Dukuhjati Bapak Amrun, perwakilan PT Pilar Bapak Anto, Ketua BPD Bapak Arif Kurniawan, seluruh perangkat desa, serta 50 orang perwakilan petani dan kelompok tani yang vokal menyuarakan nasib lahan mereka.
Tiga poin krusial menjadi bahan perdebatan hangat namun konstruktif dalam musyawarah tersebut. Pertama, penentuan titik lokasi saluran air baru. Para petani menuntut jalur irigasi yang efisien dan tidak memotong akses jalan atau merusak pematang sawa secara sembarangan. Kedua, dan yang paling sensitif, adalah antisipasi pembuangan limbah pabrik. Koptu Iwan bersama Kepala Desa menekankan pentingnya sistem filtrasi dan pengawasan ketat agar limbah industri tidak merembes atau dibuang langsung ke area persawahan, yang dapat mematikan tanaman dan mencemari ekosistem tanah. Kesepakatan prinsip pun dicapai: industri wajib bertanggung jawab penuh atas kualitas air buangan mereka.
Poin ketiga adalah rencana pembangunan jalan cor beton sebagai jalan alternatif. Ini adalah solusi cerdas untuk memisahkan jalur logistik pabrik dari jalur transportasi petani, sehingga mengurangi kemacetan dan kerusakan jalan desa akibat truk-truk berat. Dengan adanya jalan alternatif, aktivitas pertanian bisa berjalan lancar tanpa gangguan lalu lintas industri, dan sebaliknya, operasional pabrik juga menjadi lebih efisien.
Selama kegiatan berlangsung, Koptu Iwan berhasil menjaga situasi tetap aman, tertib, dan kondusif. Tidak ada aksi protes atau emosi yang meledak, berkat pendekatan dialogis yang dipimpin oleh Kepala Desa Amrun dan difasilitasi dengan baik oleh Babinsa. Para petani merasa dihargai karena aspirasi mereka didengar langsung oleh perwakilan perusahaan (PT Pilar). Bapak Anto dari pihak industri juga menunjukkan komitmen baik untuk bekerja sama demi keberlanjutan lingkungan dan hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar.
Keberhasilan musyawarah di Desa Dukuhjati ini menjadi contoh nyata bagaimana konflik sumber daya alam antara sektor agraris dan industri dapat diselesaikan melalui meja perundingan dengan pendampingan aparat keamanan yang netral dan adil. Koptu Iwan telah membuktikan peran vital Babinsa sebagai mediator konflik di tingkat akar rumput. Dengan kesepakatan ini, masa depan pertanian di Desa Dukuhjati terlihat lebih cerah, bebas dari ancaman pencemaran limbah, dan didukung infrastruktur jalan yang lebih baik.
Masyarakat Dukuhjati kini menaruh harapan besar pada implementasi hasil musyawarah ini. Dokumen perencanaan saluran air dan jalan alternatif yang telah disepakati diharapkan dapat segera dieksekusi dengan transparan. Kisah sukses Koptu Iwan di Balai Desa Dukuhjati ini layak dijadikan teladan bagi desa-desa lain yang berbatasan dengan kawasan industri. Bahwa dengan kolaborasi solid antara rakyat, pemerintah, TNI, dan swasta, tantangan seberat apa pun pasti dapat ditaklukkan demi kesejahteraan bersama. Indramayu bangkit, dimulai dari sawah-sawah yang bersih dan damai.
