Dedi Mulyadi Sentil Warga yang Rela Utang Rp25 Juta demi Hajatan Mewah, Ingatkan Bahaya Gengsi
November 04, 2026
BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam kebiasaan menghamburkan uang hanya demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar. Menurutnya, kemewahan sebuah acara tidak seharusnya menjadi ukuran keberhasilan seseorang, apalagi jika harus dibayar dengan utang yang membebani keuangan keluarga.
Dedi menilai, masih ada masyarakat yang lebih mengutamakan gengsi dibandingkan kemampuan finansial. Salah satu contohnya terlihat dari kebiasaan menggelar hajatan secara besar-besaran, meskipun kondisi ekonomi keluarga sebenarnya tidak memungkinkan untuk membiayai acara tersebut.
Peringatan itu disampaikan Dedi Mulyadi saat menghadiri puncak acara Bulan Inklusi Keuangan (BIK) FinExpo 2026 di TSM Mall Bandung, Kamis (29/10/2026) malam.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi menyoroti fenomena masyarakat yang rela meminjam uang dalam jumlah besar demi menyelenggarakan acara pernikahan, termasuk pernikahan anak.
Ia mengaku pernah bertemu dengan seorang warga di Majalengka yang menceritakan pengalamannya meminjam uang sebesar Rp25 juta dari bank untuk membiayai hajatan pernikahan.
Menurut Dedi, keputusan berutang demi memenuhi tuntutan sosial semacam itu perlu menjadi bahan evaluasi. Sebab, setelah acara selesai, masyarakat masih harus menghadapi kewajiban membayar cicilan beserta bunga pinjaman.
Padahal, uang yang digunakan untuk membiayai acara mewah tersebut seharusnya dapat dialokasikan untuk kebutuhan keluarga yang lebih penting.
Dedi Mulyadi Ingatkan Tradisi Kajen Tekor Asal Kasohor
Dedi Mulyadi kemudian mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola keuangan. Ia meminta warga mampu membedakan antara kebutuhan yang benar-benar harus dipenuhi dan keinginan yang muncul karena tekanan lingkungan sosial.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu memaksakan diri mengikuti standar kemewahan orang lain. Apalagi jika keputusan tersebut justru membuat kondisi ekonomi keluarga semakin sulit setelah acara selesai.
Dedi juga menyinggung ungkapan dalam budaya masyarakat Sunda, yakni kajen tekor asal kasohor.
Ungkapan tersebut menggambarkan kebiasaan seseorang yang rela mengalami kerugian secara materi demi mendapatkan pujian, penghormatan, atau popularitas di tengah masyarakat.
Ia meminta masyarakat mulai meninggalkan pola pikir tersebut karena dapat menimbulkan persoalan keuangan dalam jangka panjang.
"Untuk itu ibu-ibu, bapak-bapak, cerdaslah dalam melakukan keuangan. Tinggalkan tradisi kajen tekor asal kasohor," imbaunya.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan Dedi mengenai pentingnya literasi keuangan. Menurutnya, kemampuan mengatur pendapatan dan pengeluaran harus dimiliki setiap keluarga agar tidak mudah terjebak dalam keputusan finansial yang merugikan.
Warga Jawa Barat Diminta Waspadai Pinjol dan Judi Online
Selain kebiasaan berutang untuk membiayai hajatan, Dedi Mulyadi juga mengingatkan masyarakat agar menjauhi praktik pinjaman online yang tidak bertanggung jawab serta perjudian online.
Kedua aktivitas tersebut dinilai dapat menjadi ancaman serius bagi kondisi ekonomi keluarga apabila tidak diantisipasi.
Masyarakat diharapkan tidak mudah tergiur dengan tawaran pinjaman yang memberikan kemudahan pencairan dana, tetapi memiliki risiko bunga dan kewajiban pembayaran yang memberatkan.
Begitu pula dengan judi online yang berpotensi membuat seseorang kehilangan uang dalam jumlah besar akibat berharap mendapatkan keuntungan secara instan.
Dedi meminta warga Jawa Barat lebih mengutamakan kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan, serta tabungan untuk menghadapi kebutuhan mendesak.
Ia juga menekankan pentingnya kehadiran negara dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat, terutama dalam persoalan kesehatan dan pendidikan.
Menurutnya, masyarakat yang telah bekerja keras selama bertahun-tahun jangan sampai kehilangan aset berharga hanya karena harus menanggung biaya pengobatan atau pendidikan anak.
Perlindungan terhadap dua sektor tersebut dinilai penting agar keluarga tidak terpaksa menjual tanah, rumah, maupun aset lainnya demi memenuhi kebutuhan dasar.
Dedi berharap masyarakat mulai mengubah cara pandang mengenai kesejahteraan. Hidup berkecukupan bukan berarti harus selalu menggelar acara mewah atau memperlihatkan kekayaan kepada orang lain.
Sebaliknya, keluarga yang sejahtera adalah keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan hidup, memiliki perencanaan keuangan, serta tidak terus-menerus dibebani utang akibat mengejar gengsi.
Pesan Dedi tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kondisi ekonomi keluarga jauh lebih penting dibandingkan mendapatkan pujian sesaat dari lingkungan sekitar.***
