Saifullah Yusuf Targetkan 300 Siswa SRT Indramayu, Bangun Masa Depan Anak Miskin Lewat Sekolah Gratis
September 30, 2025
INDRAMAYU – Menteri Sosial (Mensos) Republik Indonesia Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, memberikan dorongan kuat bagi program pendidikan inklusif di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kunjungan kerjanya ke wilayah ini menegaskan komitmen pemerintah untuk menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 40 Indramayu. Program ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam mengurangi angka putus sekolah di daerah pedesaan, sekaligus mendukung visi Presiden Prabowo Subianto soal ketahanan sosial-ekonomi nasional.
Pada Senin, 29 September 2025, Gus Ipul berdialog langsung dengan calon siswa di Balai Latihan Kerja (BLK) Indramayu, lokasi sementara SRT 40. "Ini bagian dari 60 titik yang beroperasi pada bulan September ini. Jadi, sekarang terus dalam persiapan," ujar Mensos usai dialog tersebut. Pernyataan ini disambut antusias oleh orang tua siswa yang hadir, yang selama ini kesulitan menyekolahkan anak karena keterbatasan ekonomi. SRT 40 dirancang khusus untuk menampung anak-anak dari keluarga miskin, termasuk yang belum pernah sekolah atau putus sekolah, sebagai wujud nyata program pengentasan kemiskinan terpadu.
Bupati Indramayu Lucky Hakim turut mendampingi Mensos dalam kunjungan ini, menekankan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. "Kami telah menyiapkan lahan seluas 10 hektare untuk pembangunan gedung permanen SRT 40. Ini kesempatan emas bagi anak-anak Indramayu untuk menatap masa depan lebih cerah," kata Lucky Hakim. Kolaborasi ini melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang telah menilai BLK Indramayu layak sebagai fasilitas sementara, lengkap dengan ruang kelas, asrama, dan sarana pendukung belajar mengajar.
Tahap awal SRT 40 akan menampung sebanyak 100 calon siswa, dengan komposisi 50 murid jenjang Sekolah Dasar (SD) dan 50 murid Sekolah Menengah Pertama (SMP). Prioritas diberikan kepada anak-anak dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), memastikan akses pendidikan gratis bagi yang paling membutuhkan. Gus Ipul menargetkan ekspansi signifikan, dengan lebih dari 300 siswa per jenjang SD, SMP, dan SMA di masa depan, sehingga SRT 40 bisa menampung hingga 1.000 siswa secara keseluruhan.
Pembangunan gedung sekolah permanen dijadwalkan dimulai tahun ini, dengan target operasional penuh pada tahun ajaran 2026. Fasilitas baru ini akan dilengkapi dengan laboratorium, perpustakaan, dan lapangan olahraga, dirancang untuk mendukung kurikulum yang menekankan minat dan bakat siswa. "Mudah-mudahan semuanya bisa berjalan lancar. Kita lihat nanti anak-anak dan gurunya memulai pengenalan lingkungan sekolah," tambah Gus Ipul, menyoroti pentingnya adaptasi awal bagi siswa dan pengajar agar proses belajar berjalan optimal.
Program Sekolah Rakyat secara nasional merupakan inisiatif strategis Kemensos untuk membangun generasi unggul dari kalangan bawah. Sejauh September 2025, Kemensos menargetkan 65 unit SRT baru, dengan 16 di antaranya siap beroperasi dalam waktu dekat. Di Indramayu, SRT 40 menjadi salah satu pionir, terintegrasi dengan program asrama gratis yang memungkinkan siswa tinggal di hostel mulai 30 September 2025, jelang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Dialog Gus Ipul dengan calon siswa berlangsung hangat, di mana ia berbagi cerita inspiratif tentang pentingnya pendidikan sebagai kunci keluar dari jerat kemiskinan. "Raih cita-citanya, belajar sungguh-sungguh. Ini kesempatan yang diberikan Pak Presiden bekerja sama dengan Kemensos dan Bupati Indramayu," pesan Mensos kepada para anak. Orang tua siswa, seperti Ibu Siti dari Desa Kedungbegu, mengaku terharu karena anaknya yang putus sekolah kini punya harapan baru. "Alhamdulillah, sekarang anak saya bisa sekolah tanpa biaya," ungkapnya.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo juga hadir dalam acara tersebut, menambahkan bahwa SRT 40 dilengkapi dengan sistem pengajaran yang fleksibel. "Ada yang sama dan tidak sama dengan sekolah umum. Kita fokus pada bakat dan minat anak, bukan memaksakan kurikulum standar," jelasnya. Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi angka putus sekolah nasional yang mencapai ribuan kasus per tahun, khususnya di daerah pedesaan seperti Indramayu.
Bupati Lucky Hakim menyoroti tantangan lokal, di mana tingkat kemiskinan di Indramayu masih di atas rata-rata provinsi. "SRT 40 ini bukan hanya sekolah, tapi miniatur pengentasan kemiskinan terpadu. Kami optimistis lahir generasi cerdas dan berdaya saing," katanya. Pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran tambahan untuk mendukung operasional awal, termasuk rekrutmen guru berkualitas dari latar belakang profesional.
Kurikulum SRT 40 dirancang holistik, menggabungkan pendidikan formal dengan pelatihan keterampilan vokasi, seperti pertanian modern dan kewirausahaan. Ini sejalan dengan visi Kemensos untuk mencetak lulusan yang siap kerja, bukan hanya lulus ujian. "Anak-anak ini bakatnya apa, minatnya apa, itu yang lebih diperhatikan," tegas Gus Ipul, menggarisbawahi perbedaan mendasar dengan sekolah konvensional.
Dukungan masyarakat setempat pun mengalir deras. Tokoh adat dan ulama di Indramayu menyambut baik inisiatif ini, dengan menjanjikan bantuan moril dan logistik. "Pendidikan adalah amanah agama. Kami siap dampingi agar program ini sukses," ujar KH. Ahmad dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Indramayu. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci keberhasilan SRT 40 di tengah keterbatasan sumber daya.
Secara nasional, program Sekolah Rakyat ditargetkan menjangkau 16.000 siswa pada Tahun Anggaran 2025, dari jenjang SD hingga SMA. Gus Ipul, yang lahir di Pasuruan pada 1964 dan bergelar Doktor Ilmu Sosial dan Politik, membawa pengalaman panjang dalam politik sosial ke dalam program ini. Sebagai pengganti Tri Rismaharini, ia telah mempercepat realisasi 165 SRT pada September 2025, menunjukkan akselerasi kebijakan di bawah Kabinet Merah Putih.
Tantangan utama SRT 40 adalah memastikan kualitas pengajaran di tengah transisi fasilitas. Mensos menjamin tidak ada kekosongan guru, dengan merekrut tenaga pengajar bersertifikat dan melatih mereka secara intensif. "Kita pastikan guru-guru ini siap mendidik anak-anak kita dengan penuh kasih," katanya. Selain itu, seragam sekolah khas SRT—lengkap dengan baret dan jas merah marun—telah diperkenalkan untuk membangun rasa kebersamaan.
Dampak jangka panjang SRT 40 diharapkan mengubah wajah Indramayu, yang dikenal sebagai lumbung padi nasional tapi masih bergulat dengan disparitas pendidikan. Dengan akses gratis termasuk makan siang, transportasi, dan kesehatan, program ini bisa menekan angka kemiskinan struktural. "Ini investasi untuk Indonesia Emas 2045," ungkap Gus Ipul, merujuk visi jangka panjang bangsa.
Kunjungan Mensos ke Indramayu menandai babak baru kolaborasi pusat-daerah dalam pendidikan inklusif. Dengan operasional SRT 40 yang tinggal selangkah lagi, harapan bagi ribuan anak miskin kini terbuka lebar. Pemerintah berkomitmen penuh, dan masyarakat Indramayu siap mendukung. Semoga program ini menjadi model sukses bagi daerah lain, membuktikan bahwa pendidikan adalah hak semua anak, tanpa terkecuali.
