HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Anggota Koramil Anjatan Turun Tangan, Tradisi Mapag Sri dan Wayang Kulit di Indramayu Berlangsung Meriah dan Aman

Indramayu – Nuansa kearifan lokal kembali hidup dan menggema di Kabupaten Indramayu. Ratusan warga Desa Tegal Taman, Kecamatan Sukra, tumpah ruah mengikuti kegiatan adat Mapag Sri yang dirangkai dengan pagelaran wayang kulit langen purwa, Rabu (29/4/2026). Acara yang digelar di halaman balai desa ini berlangsung meriah, sarat makna budaya, sekaligus menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil panen.

Sejak pagi hari sekitar pukul 10.00 WIB, masyarakat sudah mulai berdatangan untuk mengikuti prosesi adat yang menjadi warisan leluhur tersebut. Mapag Sri sendiri merupakan tradisi khas masyarakat agraris di Indramayu yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri, simbol kesuburan dan kemakmuran dalam kepercayaan masyarakat Jawa.

Kegiatan ini semakin semarak dengan digelarnya pertunjukan wayang kulit langen purwa yang dibawakan oleh dalang kondang, Ki Rusmanto. Penampilan sang dalang sukses menyedot perhatian warga yang memadati lokasi acara, bahkan hingga menjelang malam hari.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kuwu Desa Tegal Taman, Makrus Hadi Prayitno beserta perangkat desa, Babinsa Desa Tegal Taman Sertu Raskiman, Bhabinkamtibmas Aiptu Hengky, tokoh adat Nurita selaku Raksa Bumi, serta unsur masyarakat dari berbagai kalangan.

Dalam sambutannya, Kuwu Makrus Hadi Prayitno menyampaikan bahwa kegiatan Mapag Sri bukan sekadar seremoni budaya, melainkan juga bentuk rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki dari hasil pertanian. Ia juga menekankan pentingnya menjaga tradisi sebagai identitas dan kekuatan sosial masyarakat desa.

“Tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga bersama. Selain sebagai ungkapan syukur, Mapag Sri juga menjadi ajang mempererat kebersamaan warga,” ujarnya.

Sementara itu, kehadiran aparat TNI dan Polri dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban selama acara berlangsung. Babinsa Sertu Raskiman menyatakan bahwa kegiatan berjalan dengan aman dan lancar tanpa adanya gangguan.

Pagelaran wayang kulit yang menjadi puncak acara menghadirkan cerita-cerita klasik penuh pesan moral, mulai dari nilai kepemimpinan, kejujuran, hingga perjuangan hidup. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, dengan banyak warga yang bertahan menyaksikan pertunjukan hingga larut.

Tokoh adat setempat, Nurita selaku Raksa Bumi, menjelaskan bahwa Mapag Sri memiliki makna spiritual yang dalam bagi masyarakat. Tradisi ini diyakini sebagai bentuk doa bersama agar hasil panen ke depan semakin melimpah dan masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah.

“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga doa dan harapan kami sebagai masyarakat tani,” ungkapnya.

Selain sebagai ritual adat, kegiatan ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Sejumlah pedagang kecil turut meramaikan acara dengan menjajakan berbagai makanan dan kebutuhan warga, menciptakan perputaran ekonomi di tingkat desa.

Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman, tertib, dan kondusif. Sinergi antara aparat keamanan, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci suksesnya acara tersebut.

Tradisi Mapag Sri yang dipadukan dengan pagelaran wayang kulit ini menjadi bukti bahwa budaya lokal masih memiliki tempat kuat di tengah arus modernisasi. Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan ini menjadi pengikat nilai-nilai kebersamaan, spiritualitas, dan identitas masyarakat.

Dengan terus dilestarikannya tradisi seperti ini, diharapkan generasi muda dapat mengenal dan mencintai budaya leluhur, sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup di masa depan.

Posting Komentar