Geger di Pasar Singakerta! Sertu Kadani Bongkar Fakta Kenaikan Harga Sembako, Daging Sapi Tembus Rp150 Ribu
Juni 27, 2026
INDRAMAYU – Suasana pagi yang biasanya tenang di Pasar Desa Singakerta, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, mendadak menjadi sorotan tajam publik usai seorang Babinsa melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap stabilitas harga kebutuhan pokok. Aksi monitoring yang dilakukan oleh Sertu Kadani, Babinsa Koramil 1610/Krangkeng, pada Sabtu (27/6/2026) pagi itu berhasil mengungkap realitas pahit di tengah masyarakat: gelombang kenaikan harga sembako mulai menggerus daya beli warga.
Kegiatan yang dimulai tepat pukul 08.30 WIB hingga selesai tersebut bukan sekadar rutinitas biasa. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi pasar domestik, kehadiran sosok militer di pasar tradisional sering kali menjadi barometer ketenangan sekaligus pengingat bagi para pedagang untuk menjaga kewajaran harga. Namun, hasil pencatatan Sertu Kadani menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Dari sepuluh komoditas strategis yang dipantau, mayoritas mengalami lonjakan harga yang signifikan, sebuah sinyal peringatan dini bagi pemerintah daerah maupun pusat.
Fakta paling mencolok terlihat pada sektor protein hewani dan bumbu dapur. Harga daging sapi, yang merupakan indikator kemakmuran sekaligus beban berat bagi kantong menengah ke bawah, tercatat melonjak hingga menyentuh angka Rp150.000 per kilogram. Kenaikan ini tentu menjadi pukulan telak bagi ibu rumah tangga yang berencana memasak hidangan spesial atau bagi pelaku usaha kuliner kecil yang bergantung pada pasokan daging berkualitas. Tidak hanya daging sapi, telur ayam juga turut mencatatkan kenaikan harga menjadi Rp38.000 per kilogram, menyamai harga daging ayam potong yang stabil di angka yang sama.
Sektor bumbu dapur pun tak luput dari incaran inflasi. Bawang merah, komoditas yang sering menjadi biang keladi gejolak harga saat momen tertentu, kini dibanderol dengan harga fantastis Rp48.000 per kilogram. Disusul oleh bawang putih di angka Rp42.000 per kilogram dan gula pasir yang naik menjadi Rp16.000 per kilogram. Bahkan, kacang kedelai sebagai bahan baku utama tahu dan tempe—makanan rakyat sejati—juga mengalami kenaikan menjadi Rp19.000 per kilogram. Kenaikan beruntun pada bahan pokok ini berpotensi memicu efek domino pada harga jadi produk olahan di pasaran.
Meski demikian, ada sedikit kabar baik yang masih bertahan di tengah badai kenaikan harga. Beras, sebagai makanan pokok utama masyarakat Indonesia, masih mampu mempertahankan stabilitasnya di angka Rp15.800 per kilogram. Demikian pula dengan minyak goreng yang tetap bertahan di harga Rp16.000 per kilogram, serta jagung yang stabil di Rp11.000 per kilogram. Stabilitas harga beras dan minyak goreng ini menjadi satu-satunya penopang agar tidak terjadi kepanikan massal di kalangan masyarakat bawah.
Sertu Kadani dalam laporannya kepada Dandim 0616/Indramayu menegaskan bahwa selama kegiatan monitoring berlangsung, situasi di Pasar Singakerta terpantau tertib dan aman. Tidak ada gesekan antara pedagang dan pembeli, maupun protes keras atas kenaikan harga yang terjadi. Hal ini menunjukkan tingkat kesadaran dan kedewasaan masyarakat Krangkeng dalam menghadapi dinamika pasar. Namun, ketertiban ini tidak boleh menjadikan aparat berlepas tangan.
Langkah proaktif yang dilakukan Babinsa Koramil 1610/Krangkeng ini patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian TNI terhadap kesejahteraan rakyat. Monitoring harga bukan hanya soal mencatat angka, tetapi juga tentang memastikan bahwa akses terhadap pangan tetap terjaga dan adil. Dengan data riil di lapangan seperti yang dikumpulkan Sertu Kadani, diharapkan Dinas Perdagangan dan instansi terkait dapat segera mengambil langkah mitigasi, apakah melalui operasi pasar, subsidi targeted, atau pengawasan lebih ketat terhadap rantai distribusi yang mungkin memainkan harga.
Warga Pasar Singakerta kini menatap harap pada intervensi pemerintah. Kenaikan harga daging sapi hingga Rp150.000 dan bumbu dapur lainnya bukanlah angka yang bisa diabaikan. Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan berdampak pada peningkatan angka inflasi daerah dan penurunan kualitas gizi masyarakat. Kehadiran Sertu Kadani di tengah pasar menjadi simbol bahwa negara hadir, mendengarkan, dan siap bertindak demi kestabilan hidup rakyatnya.
