Lestarikan Budaya "Mapag Sri", TNI Koramil Sliyeg Hadiri Ritual Syukur Panen di Sliyeg Lor, Wayang Kulit Malam Ini Puncak Acara
Juni 03, 2026
INDRAMAYU – Tradisi leluhur yang sarat makna kembali hidup di Desa Sliyeg Lor, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu. Pada Rabu pagi (3/6/2026), sejak pukul 07.30 WIB, Aula Balai Desa Sliyeg Lor dipenuhi oleh ratusan warga yang berkumpul untuk melaksanakan acara adat tahunan "Mapag Sri". Ritual ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat agraris kepada Allah SWT atas karunia hasil panen musim pertama (rendeng) yang melimpah, sekaligus sebagai doa agar musim tanam berikutnya tetap diberkahi.
Kegiatan yang bersifat rutin setiap tahun ini dihadiri oleh sekitar 150 orang warga Desa Sliyeg Lor, serta perangkat desa yang dipimpin langsung oleh Kuwu Ibu Yunani. Hadir pula perwakilan dari unsur Muspika Sliyeg, yakni Danramil 1607/Sliyeg yang diwakili oleh Pelda Rastika, dan Kapolsek Sliyeg yang diwakili oleh Bripka Bobiy. Kehadiran aparat keamanan dalam acara adat ini menunjukkan dukungan penuh negara terhadap pelestarian kearifan lokal dan harmonisasi sosial di tingkat desa.
Pelda Rastika, mewakili Danramil, menyampaikan apresiasinya atas konsistensi warga Sliyeg Lor dalam menjaga tradisi. "Mapag Sri" bukan sekadar seremonial, tetapi merupakan refleksi mendalam tentang hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Dengan melestarikan budaya ini, kita juga memperkuat tali silaturahmi antarwarga dan menjaga identitas komunitas petani Indramayu," ujarnya dalam sambutan. Ia menekankan bahwa TNI siap mendukung segala kegiatan positif yang bertujuan untuk mempererat persatuan dan ketahanan budaya masyarakat.
Sementara itu, Bripka Bobiy dari Polsek Sliyeg menambahkan bahwa kehadiran Polri adalah untuk memastikan keamanan dan ketertiban selama rangkaian acara berlangsung. "Kami mengapresiasi antusiasme warga yang tinggi. Acara seperti ini adalah momen bagus untuk mempererat kerukunan. Kami akan terus mengawal hingga puncak acara malam nanti agar berjalan kondusif," tegasnya.
Tujuan utama dari kegiatan "Mapag Sri" ini meliputi empat poin strategis: menjalin silaturahmi sesama warga, melestarikan kearifan budaya lokal, sebagai wujud puji syukur atas nikmat panen, serta memberikan hiburan terbatas yang mendidik bagi masyarakat. Suasana pagi itu terasa khidmat namun hangat, diisi dengan doa bersama dan pertunjukan seni tradisional pembuka.
Rangkaian acara "Mapag Sri" pada siang hari berakhir pukul 15.00 WIB dalam keadaan tertib dan aman. Namun, kemeriahan belum usai. Masyarakat dipersiapkan untuk menyambut puncak acara pada malam hari, yaitu pagelaran Wayang Kulit dengan dalang Ki Anom Tono Basari dari Gegesik. Pertunjukan wayang ini diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media penyampaian pesan-pesan moral dan nilai-nilai luhur bangsa kepada generasi muda.
Dengan suksesnya pelaksanaan tahap siang hari, Desa Sliyeg Lor kembali membuktikan bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi. Sinergi antara pemerintah desa, TNI, Polri, dan masyarakat telah menciptakan ekosistem budaya yang sehat dan berkelanjutan. Kodim 0616/Indramayu melalui Koramil 1607/Sliyeg terus berkomitmen untuk menjadi garda terdepan dalam melindungi dan memajukan kebudayaan daerah sebagai bagian dari ketahanan nasional non-militer. Selamat menikmati malam pentas seni, semoga Desa Sliyeg Lor senantiasa damai dan sejahtera.
