Di Tengah Kerontangan Karang Malang, Serka Sudono dan BPBD Hadirkan Oase: 51.000 Liter Air Bersih Mengalir untuk Warga Tanjakan
Juli 30, 2026
INDRAMAYU – Langit di Kecamatan Krangkeng tampak tak bersahabat. Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Indramayu telah mengubah wajah Desa Tanjakan, khususnya di Blok Karang Malang, RT 015 dan RT 016, menjadi kawasan yang kering kerontang. Sumur-sumur warga mulai menyusut, dan sumber air bersih menjadi komoditas yang paling mahal harganya. Namun, di tengah kegersangan itu, harapan tetap mengalir deras berkat sinergi antara TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan pemerintah desa.
Pada Kamis siang, 30 Juli 2026, tepat pukul 10.00 WIB, suasana berbeda terasa di Blok Karang Malang. Deru mesin truk tangki memecah keheningan desa yang terik. Serka Sudono, Babinsa Desa Tanjakan dari Koramil 1610/Krangkeng, tampak sigap memimpin pengaturan lalu lintas dan distribusi air. Ia tidak berdiri diam; bersama anggota BPBD Kabupaten Indramayu dan perangkat desa setempat, ia turun tangan membantu warga menampung air kehidupan tersebut ke dalam jerigen, ember, dan tong-tong penyimpanan.
Krisis air bersih yang melanda blok tersebut mendapat respons cepat dari pemerintah daerah. Melalui koordinasi yang solid, BPBD Kab. Indramayu menurunkan armada logistiknya untuk menyuplai sebanyak 31.000 liter air bersih. Jumlah ini belum termasuk bantuan tambahan dari PDAM yang turut serta menyumbang 10.000 liter. Total, sebanyak 51.000 liter air bersih berhasil didistribusikan secara merata kepada warga yang terdampak. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari ribuan gelas air minum, mandi, dan cuci yang dapat dinikmati kembali oleh ratusan kepala keluarga di Blok Karang Malang.
"Kami prioritaskan distribusi ini agar adil dan tertib. Tidak ada yang boleh merasa dikesampingkan," tegas Serka Sudono sambil mengarahkan antrian warga. Kehadirannya memberikan rasa aman dan ketertiban. Di tengah keterbatasan sumber daya, potensi gesekan akibat antrean air sangat mungkin terjadi. Namun, berkat pendekatan humanis dan kewibawaan seorang Babinsa, situasi terkendali dengan baik. Warga saling menghormati giliran, menyadari bahwa air yang datang adalah hasil usaha bersama yang harus dijaga kebersamaannya.
Kolaborasi tiga pilar—TNI, BPBD, dan Perangkat Desa—menjadi kunci keberhasilan operasi kali ini. Jika BPBD menyediakan sumber daya logistik dan teknis, maka Serka Sudono dan perangkat desa berperan sebagai ujung tombak yang memahami kondisi sosial dan kebutuhan spesifik setiap rumah tangga. Mereka tahu siapa yang paling membutuhkan: lansia yang sulit membawa ember berat, atau ibu-ibu dengan balita yang memerlukan air steril untuk susu.
Selama kegiatan pendistribusian berlangsung, situasi terpantau aman, tertib, dan kondusif. Tidak ada laporan keluhan atau keributan. Sebaliknya, wajah-wajah lelah warga perlahan berubah menjadi senyum lega saat bak penampungan mereka kembali penuh. Air jernih yang mengalir dari selang truk tangki seolah menjadi obat bagi kecemasan yang telah menghantui mereka selama berminggu-minggu karena kekeringan.
Bagi warga Blok Karang Malang, Serka Sudono bukan lagi sekadar aparat keamanan, tetapi sahabat di masa sulit. Ia hadir bukan hanya membawa senjata, tetapi membawa solusi. Aksi nyata ini membuktikan bahwa TNI selalu ada di garis depan ketika rakyat menghadapi bencana alam, sekecil apapun skalanya.
Meskipun hujan belum juga turun membasahi tanah retak di Krangkeng, kehadiran 51.000 liter air bersih telah membasahi hati warga Tanjakan. Ini adalah bukti bahwa di Indonesia, gotong royong dan kepedulian antar-lembaga masih menjadi kekuatan terbesar mengatasi krisis. Serka Sudono, BPBD, dan warga Desa Tanjakan telah mengajarkan kita bahwa bahkan di tengah kekeringan paling parah sekalipun, kemanusiaan akan selalu menemukan cara untuk mengalir dan menghidupkan harapan.
