HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Sinergi Lintas Sektor di Karangampel: Serka Sudono dan Pemangku Kepentingan Bahas Solusi Krisis Air untuk Percepatan Tanam Gadu MT2 2026


INDRAMAYU – Ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada ketersediaan benih unggul atau pupuk bersubsidi, tetapi juga sangat ditentukan oleh kelancaran aliran air irigasi. Menyadari urgensi tersebut, sebuah rapat evaluasi strategis digelar pada Jumat siang, 31 Juli 2026, pukul 13.00 WIB di Aula Kantor Desa Pringgacala, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu. Agenda utamanya satu: memastikan kesuksesan Musim Tanam (MT) Gadu MT2 Tahun 2026, khususnya di wilayah Desa Tanjakan, Kecamatan Krangkeng, yang saat ini menghadapi tantangan kritis berupa keterbatasan pasokan air.

Rapat yang dipimpin secara kolaboratif ini menghadirkan perwakilan dari berbagai elemen kunci pengelolaan sumber daya air dan pertanian. Hadir dalam kesempatan tersebut Bpk. Indra Mulyana AP, M.Si (Camat Krangkeng), Ibu Hj. Dinar Novikasar, SSTP, M.Si (Plt. Camat Karangampel), serta para Kepala UPTD, Pengamat Pengairan, dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL/BPP) dari kedua kecamatan. Dari unsur TNI, Koramil 1610/Krangkeng diwakili oleh Serka Sudono, yang senantiasa menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah, teknis pengairan, dan masyarakat petani. Kehadiran para Kuwu dari Desa Pringgacala, Tanjungsari, Tanjungpura, dan Tanjakan, beserta para Raksabumi, menunjukkan tingginya kesadaran lokal akan pentingnya koordinasi dalam mengatasi masalah bersama.

Fokus utama pembahasan adalah kendala infrastruktur dan manajemen air yang menghambat percepatan tanam. Beberapa poin krusial yang dievaluasi meliputi upaya penambahan debit air dari Bendung Rentang untuk meningkatkan volume air yang mengalir ke daerah hilir. Selain itu, dilakukan identifikasi jalur-jalur irigasi saluran sekunder yang mengalami pendangkalan atau tersumbat sehingga perlu segera dilakukan normalisasi. Rapat juga menyoroti masih adanya praktik buka-tutup pintu air oleh pihak yang tidak berwenang atau bukan petugas resmi, yang menyebabkan distribusi air menjadi tidak merata dan tidak terprediksi.

Perhatian khusus juga diberikan terhadap banyaknya pintu air non-teknis yang dibangun secara swadaya tanpa standar baku di sepanjang saluran sekunder Siwarak, yang dinilai mengganggu aliran utama dan perlu ditata ulang. Para peserta rapat juga merumuskan langkah antisipasi jika pasokan air tetap minim, termasuk potensi pergeseran pola tanam atau penggunaan varietas padi tahan kekeringan untuk mencegah gagal tanam. Terakhir, dibahas mengenai optimalisasi fungsi IRPOM dari saluran pembuang Sigedang sebagai alternatif sumber air cadangan yang strategis.

Serka Sudono dalam sambutannya menekankan pentingnya disiplin sosial bagi para petani. "Air adalah hak bersama, namun pengelolaannya harus profesional. Kami mengajak seluruh warga untuk tidak sembarangan mengoperasikan pintu air agar distribusi bisa adil sesuai jadwal rotasi yang telah ditetapkan BBWS," ujarnya. Pernyataan ini mendapat dukungan penuh dari para Camat dan Pengamat Pengairan yang hadir.

Suasana rapat berjalan tertib, aman, dan sangat produktif. Terjadi diskusi dua arah yang hidup antara petugas teknis BBWS/UPTD dengan para Kuwu dan Raksabumi, sehingga solusi yang dihasilkan bersifat praktis dan dapat segera diterapkan di lapangan. Kesepakatan bersama untuk melakukan patroli rutin terhadap pintu air dan gotong royong normalisasi saluran menjadi keluaran positif dari pertemuan ini.

Bagi Desa Tanjakan dan sekitarnya, hasil rapat ini adalah sinar harapan di tengah ancaman gagal panen. Dengan sinergi kuat antara Pemkab Indramayu, BBWS, TNI, dan masyarakat, optimisme untuk mewujudkan MT2 yang sukses semakin terbuka lebar. Ini adalah bukti bahwa ketika semua pihak duduk satu meja dengan niat tulus menjaga kedaulatan pangan, tidak ada masalah irigasi yang terlalu besar untuk diselesaikan.
Posting Komentar