Jemput Bola Cegah Penularan TB, Babinsa Serka Sudono Dampingi Skrining ACF Project FCSDS di Desa Tanjakan
Agustus 13, 2026
INDRAMAYU – Upaya pemberantasan penyakit Tuberculosis (TB) terus digencarkan hingga ke tingkat desa melalui pendekatan aktif dan terintegrasi. Pada Kamis (13/08/2026) mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, kegiatan Skrining Active Finding Case (ACF) TB dalam rangka Project Facility and based Service Delivery Support (FCSDS) Tahun 2026 dilaksanakan di Aula Kantor Desa Tanjakan, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu.
Kegiatan ini bertujuan untuk meminimalisir penularan serta penyebaran bakteri Mycobacterium tuberculosis di lingkungan masyarakat, khususnya bagi mereka yang berisiko tinggi namun belum terdeteksi. Dengan metode Active Finding Case, tenaga kesehatan tidak hanya menunggu pasien datang, tetapi secara proaktif menjemput bola untuk melakukan pemeriksaan dini.
Serka Sudono, Babinsa Desa Tanjakan, hadir mendampingi seluruh rangkaian kegiatan untuk memastikan kelancaran proses dan memberikan rasa aman kepada warga yang mengikuti skrining. Kehadiran Babinsa ini juga merupakan wujud dukungan TNI terhadap program kesehatan nasional dalam menciptakan masyarakat yang sehat dan produktif.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kuwu Desa Tanjakan, Bpk. H. Wadi, Kepala Puskesmas Krangkeng Ibu Hj. Sumiyati, serta tim tenaga kesehatan dari Puskesmas Krangkeng. Sekitar 200 orang warga masyarakat yang telah diundang turut berpartisipasi aktif dalam acara ini.
Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan meliputi:
1. Registrasi dan Verifikasi: Pendataan peserta untuk memastikan akurasi data sasaran skrining.
2. Pemeriksaan Kesehatan Dasar dan Skrining Gejala: Pengecekan tanda-tanda awal TB seperti batuk berdahak lebih dari dua minggu, demam, keringat malam, dan penurunan berat badan.
3. Radiologi Thorax Mobile: Penggunaan alat Rontgen dada portabel untuk mendeteksi kelainan pada paru-paru secara cepat dan akurat di lokasi.
4. Pemeriksaan dan Tindak Lanjut Dokter: Konsultasi langsung dengan dokter untuk evaluasi hasil radiologi dan gejala klinis.
5. Pemberian Makanan Tambahan: Sebagai bentuk dukungan gizi bagi peserta, terutama bagi mereka yang terindikasi kurang gizi atau sedang dalam masa pemulihan.
6. Input Data Pasien Suspek TB: Pencatatan digital bagi warga yang menunjukkan gejala kuat agar dapat segera ditangani lebih lanjut sesuai prosedur medis.
Ibu Hj. Sumiyati, Kapuskesmas Krangkeng, menyampaikan bahwa deteksi dini adalah kunci utama dalam memutus mata rantai penularan TB. "Dengan adanya skrining massal seperti ini, kita bisa menemukan kasus tersembunyi (hidden cases) dan segera memberikan pengobatan sebelum menular ke keluarga atau lingkungan sekitar," jelasnya.
Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman, tertib, dan kondusif. Antusiasme warga cukup tinggi, mengingat kesadaran akan bahaya TB semakin meningkat berkat sosialisasi rutin yang dilakukan oleh Puskesmas bersama unsur terkait.
Kolaborasi antara Pemerintah Desa, Tenaga Kesehatan, dan TNI melalui Babinsa ini menjadi contoh nyata sinergitas lintas sektor dalam menangani isu kesehatan publik. Diharapkan, melalui Project FCSDS ini, angka kesembuhan TB di Kecamatan Krangkeng dapat meningkat, sementara angka penularan baru dapat ditekan seminimal mungkin, sehingga kualitas hidup masyarakat Desa Tanjakan dan sekitarnya tetap terjaga dengan baik.
