HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Serka Muksin Jadi Wasit Air di Srengseng, Damai kan Konflik Irigasi Tiga Desa Bareng Camat Krangkeng yang Menggetarkan!


INDRAMAYU – Ketegangan sempat menyelimuti area persawahan di Blok Kembang Gadung, Desa Srengseng, Kecamatan Krangkeng, pada Sabtu siang (22/8/2026). Isu pembagian air irigasi yang sering kali menjadi pemicu konflik antar-warga dari berbagai desa, berhasil diredam dengan cepat dan elegan. Sejak pukul 11.05 WIB, kehadiran Serka Muksin, Babinsa Desa Srengseng dari Koramil 1610/Krangkeng, bersama jajaran pemerintah kecamatan dan desa setempat, berhasil menciptakan solusi win-win solution bagi para petani.

Kegiatan pendampingan pertanian ini bukan sekadar monitoring biasa. Serka Muksin turun langsung ke lapangan untuk memfasilitasi diskusi kritis mengenai pembagian giliran air antara tiga desa yang saling berbatasan: Desa Kaplongan (Kecamatan Karangampel), Desa Kedungwungu, dan Desa Srengseng (Kecamatan Krangkeng). Ketiga wilayah ini mengandalkan sumber air yang sama, sehingga koordinasi yang ketat sangat diperlukan untuk mencegah adanya pihak yang merasa dirugikan atau mengambil hak air secara sepihak.

Dalam forum dadakan di tengah sawah tersebut, hadir pula tokoh-tokoh kunci yang memiliki wewenang penuh dalam pengambilan keputusan. Bapak Indra Mulyana, AP., M.Si., selaku Camat Krangkeng, memimpin jalannya musyawarah dengan tegas namun demokratis. Kehadiran orang nomor satu di kecamatan ini memberikan bobot hukum dan administratif yang kuat terhadap kesepakatan yang akan diambil.

"Air adalah hak bersama, tapi pengelolaannya butuh aturan main yang jelas. Kita tidak boleh biarkan ego sektoral merusak harmonisasi antar-desa," tegas Camat Indra Mulyana di hadapan para Kuwu dan petugas teknis.

Selain Camat, hadir pula Bapak Tohir (Kuwu Desa Srengseng), Bapak Masduki (Kuwu Desa Kedungwungu), serta Bapak Adnan selaku Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Dua orang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Bapak Kamid sebagai Raksabumi (penjaga pintu air/tradisional) juga turut serta memberikan data teknis debit air dan kondisi saluran irigasi terkini. Kolaborasi lintas sektor antara TNI, Pemerintah Daerah, dan ahli pertanian ini menunjukkan keseriusan semua pihak dalam menjaga ketahanan pangan wilayah.

Serka Muksin berperan aktif sebagai mediator netral. Ia memastikan bahwa suara setiap perwakilan desa didengar dengan baik. "Tugas kami sebagai Babinsa adalah menjaga konditivitas. Jika masalah air ini dibiarkan, bisa memicu kerusuhan sosial. Maka dari itu, kita selesaikan di meja musyawarah dengan kepala dingin," ujar Serka Muksin sambil menunjuk arah aliran air yang sedang dipantau.

Hasil dari monitoring dan diskusi tersebut adalah kesepakatan baru mengenai jadwal buka-tutup pintu air yang lebih transparan dan adil. Semua pihak sepakat untuk saling mengingatkan jika terjadi pelanggaran jadwal. Bapak Tohir dan Bapak Masduki menyatakan kepuasan mereka atas fasilitasi yang dilakukan oleh TNI dan Camat. "Alhamdulillah, berkat Pak Tentara dan Pak Camat, kami jadi punya pegangan jelas. Tidak ada lagi tuduhan mencuri air," kata Bapak Tohir dengan lega.

Selama kegiatan berlangsung, situasi di lokasi terpantau sangat lancar dan kondusif. Tidak ada protes atau aksi anarkis dari warga yang biasanya kerap muncul saat musim kemarau atau debit air menurun. Keberhasilan Serka Muksin dan tim dalam meredam potensi konflik ini menjadi bukti nyata efektivitas peran Babinsa dalam pembinaan teritorial.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model penyelesaian sengketa sumber daya alam tingkat desa di Kabupaten Indramayu. Dengan pendekatan humanis dan melibatkan seluruh stakeholder terkait, stabilitas pertanian di wilayah Krangkeng dan sekitarnya dapat tetap terjaga. Warga pun kini bisa kembali fokus menggarap sawahnya tanpa dibayangi ketakutan akan kelangkaan air atau konflik dengan tetangga desa. Sebuah kemenangan diplomasi di tengah hamparan hijau padi yang dipimpin oleh seorang prajurit bernama Serka Muksin.
Posting Komentar