HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Makam Dipenuhi Cahaya Lilin, Begini Tradisi Unjungan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten


INDRAMAYU – Ratusan warga memadati Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Kedokan Bunder, Kecamatan Kedokan Bunder, Kabupaten Indramayu, dalam tradisi adat unjungan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten. Suasana makam yang biasanya gelap pada malam hari berubah terang oleh cahaya lilin yang dibawa warga untuk dinyalakan di makam keluarga mereka.

Tradisi yang dikenal dengan sebutan Malam Seribu Lilin tersebut menjadi salah satu momen yang dinantikan masyarakat setempat dalam rangkaian puncak unjungan. Bukan sekadar menghadirkan pemandangan yang berbeda, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya warga menghormati leluhur sekaligus menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Cahaya lilin yang menerangi area pemakaman menghadirkan suasana khidmat. Warga datang untuk berziarah, memanjatkan doa, serta mengenang anggota keluarga yang telah meninggal dunia.

Bagi masyarakat Desa Kedokan Bunder, kegiatan tersebut memiliki makna tersendiri. Selain menjadi ruang untuk mengenang keluarga, Malam Seribu Lilin juga mempertemukan warga dalam tradisi yang telah melekat dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.

Tradisi Turun-Temurun Sejak Ratusan Tahun

Kepala Desa Kedokan Bunder, Waskim, mengatakan tradisi unjungan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan terus dilestarikan hingga sekarang.

Buyut Nyimas Ratu Kawunganten merupakan sosok leluhur yang dihormati oleh masyarakat setempat. Tradisi unjungan menjadi salah satu bentuk penghormatan masyarakat terhadap sejarah dan peninggalan yang berkaitan dengan tokoh tersebut.

Pada 2026, tradisi unjungan ini diketahui telah memasuki usia ke-547 tahun. Usia panjang tersebut menunjukkan bahwa kegiatan adat ini telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Kedokan Bunder dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di tengah perubahan zaman, warga tetap mempertahankan rangkaian kegiatan unjungan sebagai bagian dari identitas budaya desa. Tradisi tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali mengenal sejarah leluhur dan mempererat hubungan ant warga.

Ada Sedekah Bumi hingga Menguras Sumur Gede

Rangkaian unjungan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten tidak hanya diisi dengan kegiatan menyalakan lilin di area pemakaman. Sejumlah kegiatan adat lainnya turut mewarnai pelaksanaan tradisi tahunan tersebut.

Di antaranya adalah sedekah bumi, arak-arakan, hingga kegiatan menguras Sumur Gede yang dipercaya sebagai salah satu peninggalan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten.

Sedekah bumi menjadi bagian dari tradisi masyarakat yang berkaitan dengan ungkapan rasa syukur. Sementara itu, arak-arakan menghadirkan suasana kebersamaan dalam rangkaian kegiatan adat yang melibatkan masyarakat.

Adapun Sumur Gede memiliki keterkaitan dengan cerita sejarah dan warisan leluhur yang terus diingat warga. Kegiatan menguras sumur menjadi salah satu bagian dari rangkaian unjungan yang dipertahankan sebagai tradisi masyarakat setempat.

Berbagai kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa unjungan bukan hanya kegiatan ziarah, melainkan juga peristiwa budaya yang melibatkan partisipasi masyarakat secara luas.

Malam Seribu Lilin Jadi Simbol Penghormatan Leluhur

Bagi warga Kedokan Bunder, nyala lilin dalam tradisi ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar penerangan. Momen tersebut menjadi sarana untuk mengenang keluarga yang telah berpulang sekaligus memanjatkan doa di tempat peristirahatan mereka.

Kehadiran ratusan warga di area pemakaman juga memperlihatkan kuatnya keterikatan masyarakat terhadap tradisi yang diwariskan para pendahulu.

Malam Seribu Lilin menjadi pengingat bahwa sejarah sebuah desa tidak hanya tersimpan dalam cerita lisan, tetapi juga hidup melalui kebiasaan dan kegiatan adat yang terus dijalankan masyarakat.

Pelestarian tradisi ini turut membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal akar sejarah daerahnya. Dengan menyaksikan dan mengikuti rangkaian unjungan, generasi penerus dapat memahami nilai penghormatan kepada leluhur, kebersamaan, serta pentingnya menjaga warisan budaya.

Memasuki usia ke-547 tahun pada 2026, tradisi unjungan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Desa Kedokan Bunder.

Di tengah perkembangan zaman, Malam Seribu Lilin menjadi simbol bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat. Cahaya yang menerangi makam setiap pelaksanaan unjungan sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga sejarah, merawat kebersamaan, dan meneruskan tradisi kepada generasi mendatang.

Posting Komentar