Meriah dan Sakral! Serka Abdul Hadi Hadiri Ritual Adat Sedekah Bumi Desa Temiyang, Simbol Harmoni TNI-Rakyat yang Menggugah Jiwa Nasionalisme
Oktober 10, 2026
INDRAMAYU – Udara pagi di Blok Cilegeh, RT 17 RW 07, Desa Temiyang, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, terasa berbeda pada Sabtu (10/10/2026). Sejak pukul 08.00 WIB, aroma kemenyan bercampur dengan wangi bunga-bunga sesajen menyeruak, menandai dimulainya sebuah tradisi leluhur yang sarat makna: Adat Sedekah Bumi. Namun, tahun ini ada nuansa khusus yang menyelimuti acara tersebut. Kehadiran Serka Abdul Hadi, Babinsa Desa Temiyang, bersama Bripka Kasnadi, Bhabinkamtibmas, memberikan warna baru dalam pelestarian budaya lokal yang penuh khidmat.
Sedekah Bumi bukan sekadar ritual seremonial bagi warga Temiyang. Ini adalah manifestasi rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT atas limpahan rezeki berupa hasil panen raya yang melimpah ruah. Di tengah modernisasi yang sering kali mengikis nilai-nilai tradisional, masyarakat Desa Temiyang justru semakin kuat memegang teguh akar budayanya. Dan yang lebih membanggakan, aparat negara hadir bukan sebagai pengawas yang kaku, melainkan sebagai bagian integral dari komunitas yang turut merayakan kebahagiaan warga.
Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh penting, mulai dari Kuwu Desa Temiyang, Bapak Sopyan, para tokoh agama, tokoh pemuda, hingga seluruh lapisan masyarakat desa. Kehadiran Serka Abdul Hadi dan Bripka Kasnadi di barisan depan menunjukkan sinergitas yang solid antara unsur keamanan (TNI-Polri) dengan pemerintahan desa dan elemen masyarakat. Mereka duduk bersanding, berbaur tanpa sekat, menyaksikan prosesi adat dengan penuh hormat. Sikap ini mengirimkan pesan kuat bahwa TNI dan Polri adalah pelindung budaya dan fasilitator kedamaian, bukan pihak asing yang berjarak.
Prosesi berlangsung dengan hikmat. Doa-doa dipanjatkan untuk keberkahan tanah, kelancaran musim tanam berikutnya, dan keselamatan seluruh warga desa. Serka Abdul Hadi tampak aktif berinteraksi dengan para tetua adat, mendengarkan cerita-cerita sejarah desa, dan memastikan bahwa setiap tahapan ritual berjalan sesuai pakem tanpa gangguan. "Kami hadir di sini untuk menghormati tradisi nenek moyang yang telah menjaga kearifan lokal. Selama tradisi itu tidak bertentangan dengan hukum negara dan agama, kami akan dukung sepenuhnya," ungkap Serka Abdul Hadi di sela-sela kegiatan.
Kehadiran Babinsa dan Babinpol dalam acara adat seperti ini memiliki dampak psikologis yang besar bagi masyarakat. Warga merasa dilindungi dan dihargai. Rasa aman yang tercipta memungkinkan mereka untuk fokus pada aspek spiritual dan sosial dari acara tersebut, tanpa dibayangi kekhawatiran akan gangguan keamanan. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan *soft power* melalui kehadiran fisik dan partisipasi aktif aparatur negara jauh lebih efektif dalam membangun ketahanan nasional daripada sekadar patroli rutin.
Selama kegiatan berlangsung dari pagi hingga selesai, situasi terpantau sangat aman, kondusif, dan tertib. Tidak ada insiden sedikit pun, hanya ada tawa, doa, dan rasa kebersamaan yang erat. Dokumentasi yang tertangkap kamera menunjukkan wajah-wajah bahagia warga Temiyang yang bersalaman dengan Serka Abdul Hadi dan Bripka Kasnadi, simbol persatuan yang tak terpisahkan.
Laporan ini disampaikan kepada Dandim 0616/Indramayu sebagai bukti nyata bahwa Koramil 1613/Terisi, melalui Babinsanya, terus menjalankan fungsi pembinaan teritorial dengan cara yang humanis dan berbudaya. Serka Abdul Hadi telah berhasil menjadikan momen Sedekah Bumi Desa Temiyang bukan hanya sebagai upacara syukur panen, tetapi juga sebagai momentum perekat bangsa. Di tahun 2026 ini, ketika tantangan disintegrasi sosial mengintai, harmoni seperti yang terjadi di Desa Temiyang adalah obat paling manjur. Ini adalah wajah Indonesia yang sesungguhnya: beragam, religius, dan bersatu di bawah naungan rasa aman yang dijaga oleh putra-putra terbaiknya.
