HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Petugas SPBU di Denpasar Tumbang Usai Lembur 2 Hari di Tengah Antrean BBM Membludak


DENPASAR – Kondisi membludaknya antrean bahan bakar minyak (BBM) di Denpasar, Bali, menyisakan cerita perjuangan para petugas stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Komang Ayu, petugas SPBU 54.801.20 di Jalan Badak Agung, Denpasar, dilaporkan tumbang setelah menjalani lembur selama dua hari di tengah padatnya pelayanan kepada masyarakat, Jumat (16/10/2026).

Di balik antrean kendaraan yang terus berdatangan, Ayu harus menjalani jam kerja panjang demi membantu melayani kebutuhan BBM masyarakat. Petugas yang telah bekerja selama delapan tahun di SPBU tersebut menjalani jadwal kerja mulai pukul 14.00 hingga 03.00 WITA. Kondisi fisiknya akhirnya menurun setelah bekerja ekstra di tengah situasi yang semakin sibuk.

Petugas SPBU Denpasar Lembur hingga Dini Hari

Sejak SPBU tempat Ayu bekerja mulai beroperasi selama 24 jam pada Selasa (13/10/2026), para petugas harus bergantian menjalani lembur untuk melayani masyarakat.

Perubahan jam operasional tersebut membuat petugas harus menyesuaikan diri dengan meningkatnya kebutuhan pelayanan, terutama ketika antrean BBM membludak.

Ayu menjadi salah satu petugas yang ikut menjalani jam kerja panjang. Ia tetap bertugas melayani masyarakat hingga dini hari, ketika sebagian besar orang sudah beristirahat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sumber Sagra Bali, kondisi Ayu mulai menurun sekitar pukul 03.00 WITA. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan ia semakin lemah setelah menjalani aktivitas kerja yang menguras tenaga.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena petugas SPBU berada di garis depan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya ketika terjadi lonjakan antrean kendaraan.

Harus Tinggalkan Anak Berusia 7 Tahun

Di tengah tuntutan pekerjaan, Ayu juga harus menghadapi kondisi yang tidak mudah dalam kehidupan keluarganya.

Petugas SPBU tersebut memiliki anak yang masih berusia tujuh tahun. Ketika harus menjalani lembur hingga dini hari, ia terpaksa meninggalkan anaknya di rumah demi memenuhi tanggung jawab pekerjaan.

Situasi itu memperlihatkan tantangan yang dihadapi pekerja dengan jam kerja panjang, terutama mereka yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Di satu sisi, Ayu harus tetap menjalankan tugasnya untuk melayani masyarakat yang membutuhkan BBM. Di sisi lain, ia juga memiliki tanggung jawab sebagai orang tua yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa di balik pelayanan publik yang terus berjalan, terdapat pekerja yang harus mengerahkan tenaga ekstra untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

Antrean BBM Berdampak pada Beban Kerja Petugas

Membludaknya antrean BBM tidak hanya berdampak pada masyarakat yang harus menunggu untuk mengisi bahan bakar. Kondisi tersebut juga menambah beban petugas yang bertanggung jawab melayani kendaraan secara bergantian.

Jam operasional selama 24 jam membutuhkan pengaturan jadwal kerja dan pembagian tugas yang memadai agar pelayanan tetap berjalan tanpa mengabaikan kondisi fisik para pekerja.

Dalam situasi seperti ini, waktu istirahat dan pengaturan jam kerja menjadi hal penting untuk diperhatikan. Petugas yang bekerja hingga dini hari membutuhkan kesempatan beristirahat agar dapat kembali menjalankan tugas dengan kondisi yang baik.

Peristiwa yang dialami Komang Ayu menjadi pengingat mengenai pentingnya memperhatikan kesejahteraan pekerja di tengah meningkatnya kebutuhan pelayanan masyarakat.

Para petugas SPBU memiliki peran penting dalam memastikan distribusi pelayanan BBM kepada konsumen berjalan lancar. Namun, upaya memenuhi kebutuhan masyarakat juga perlu diimbangi dengan perhatian terhadap keselamatan dan kondisi fisik para pekerja.

Hingga informasi ini disusun, belum terdapat keterangan lebih lanjut mengenai kondisi terkini Komang Ayu maupun penjelasan resmi dari pihak pengelola SPBU terkait peristiwa tersebut.***

Posting Komentar