Waspada “El Nino Godzila”! Koramil Terisi Bergerak Cepat Amankan Air dan Lahan Pertanian
Indramayu – Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino mulai diantisipasi secara serius di Kabupaten Indramayu. Pemerintah Kecamatan Cikedung bersama unsur TNI, Polri, dan para pemangku kepentingan menggelar rapat koordinasi guna menghadapi potensi dampak yang disebut sebagai “El Nino Godzila”, Rabu (29/4/2026).
Rapat yang berlangsung di Aula Kecamatan Cikedung sejak pukul 10.30 WIB hingga 12.00 WIB ini dihadiri oleh berbagai unsur penting, di antaranya Camat Cikedung Dadang S, Kapolsek Cikedung Iptu Nanang, Danposmil Cikedung Peltu Wawan H, Kepala BPP Cikedung Harto, para kuwu se-Kecamatan Cikedung, serta pamong desa dan Raksa Bumi.
Dalam arahannya, Camat Cikedung menegaskan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam menjaga ketersediaan air, khususnya untuk mendukung sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
“Kuwu agar segera menyampaikan kepada pamong desa dan Raksa Bumi untuk berkoordinasi dengan kelompok tani dalam menjaga ketersediaan air. Ini harus dilakukan bersama-sama sejak sekarang,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar pengelolaan embung di setiap desa dilakukan secara terkoordinasi dan tidak sembarangan digelontorkan tanpa komunikasi dengan pihak terkait. Selain itu, Camat menyoroti adanya praktik “bobokan liar” di wilayah Jatisura dan Jambak yang berpotensi merusak infrastruktur irigasi.
“Jangan sampai ada bobokan liar yang merusak saluran irigasi. Ini harus segera disosialisasikan kepada petani,” tambahnya.
Camat juga menegaskan bahwa Kecamatan Cikedung memiliki peran strategis dalam keberhasilan Indramayu sebagai daerah swasembada padi dan tebu. Oleh karena itu, kesiapsiagaan menghadapi El Nino menjadi hal yang tidak bisa ditunda.
Sementara itu, Kepala BPP Kecamatan Cikedung, Harto, memaparkan kondisi pertanian di wilayahnya yang memiliki luas lahan sawah mencapai 1.467 hektare. Ia menyebutkan bahwa pihaknya tengah mengusulkan pembangunan infrastruktur pendukung seperti irigasi perpompaan (irpom) di Desa Jatisura dan Desa Mundak Jaya.
“Kami juga mengajukan program pompanisasi sebagai prioritas untuk mengairi sawah dan lahan tebu. Ini sangat penting untuk menghadapi musim kering,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dampak El Nino diperkirakan mulai terasa pada bulan Mei dan akan mencapai puncaknya pada Agustus. Oleh karena itu, petani diminta untuk mempercepat proses persemaian agar tidak terlambat dalam masa tanam kedua (MT2) yang direncanakan pada bulan Juni.
“Persemaian harus dipercepat. Jangan sampai terlambat karena keterbatasan air bisa menjadi kendala besar,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mengimbau agar petani segera melaporkan kepada penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan Babinsa jika harga gabah di lapangan turun di bawah Rp6.500 per kilogram, guna mengantisipasi kerugian petani.
Rapat koordinasi ini menjadi langkah strategis dalam menghadapi potensi krisis air dan dampaknya terhadap sektor pertanian. Sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat diharapkan mampu meminimalkan risiko yang ditimbulkan oleh fenomena El Nino.
Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman dan lancar. Diskusi berjalan aktif dengan berbagai masukan dari peserta rapat, menunjukkan keseriusan semua pihak dalam menghadapi ancaman kekeringan.
Dengan langkah antisipatif yang dilakukan sejak dini, Kecamatan Cikedung optimistis mampu menjaga produktivitas pertanian serta mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan di Indramayu.
