Babinsa Terjun Langsung, Tradisi Mapag Sri di Kendayakan Jadi Simbol Kekuatan Pangan dan Kebersamaan Warga
INDRAMAYU – Nuansa sakral dan penuh kebersamaan mewarnai pelaksanaan tradisi Mapag Sri di Desa Kendayakan, Kecamatan Terisi, Senin (4/5/2026). Kegiatan adat yang sarat makna ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas masyarakat tani dalam menjaga ketahanan pangan.
Sejak pagi hari, ratusan warga tampak memadati halaman balai desa untuk mengikuti rangkaian prosesi. Tradisi Mapag Sri yang dikenal sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi ini berlangsung khidmat, diiringi doa dan harapan akan keberkahan musim tanam ke depan.
Dalam kegiatan tersebut, kehadiran aparat kewilayahan turut menjadi sorotan. Babinsa sebagai ujung tombak TNI di desa dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga kondusivitas sekaligus mendukung kegiatan sosial kemasyarakatan.
Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah unsur pimpinan wilayah, di antaranya Camat Terisi Boy Billy Prima, perwakilan Danramil 1613/Terisi Ahmad Sugito, serta perwakilan Kapolsek Terisi Ibnu Hajar. Turut hadir Kuwu Desa Kendayakan Agung Prayitno bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat.
Kehadiran lintas unsur ini menunjukkan kuatnya sinergitas antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjaga tradisi sekaligus stabilitas wilayah. Sekitar 100 petani yang tergabung dalam kelompok tani Ampera juga ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Mapag Sri sendiri merupakan tradisi turun-temurun masyarakat agraris sebagai simbol penyambutan Dewi Sri, yang dipercaya sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran. Dalam konteks modern, tradisi ini dimaknai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen serta harapan akan keberhasilan musim tanam berikutnya.
Prosesi diawali dengan doa bersama, dilanjutkan dengan ritual adat yang melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga. Berbagai hasil bumi turut dihadirkan sebagai simbol kemakmuran, mulai dari padi, sayuran, hingga hasil pertanian lainnya.
Menurut warga setempat, tradisi ini bukan sekadar seremonial, melainkan sarana mempererat hubungan sosial antarwarga. Di tengah tantangan sektor pertanian saat ini, kegiatan seperti Mapag Sri menjadi penguat semangat gotong royong dan kebersamaan.
Peran Babinsa dalam kegiatan ini juga dinilai penting, tidak hanya dalam aspek pengamanan, tetapi juga sebagai pendamping masyarakat dalam berbagai kegiatan, termasuk sektor pertanian. Kehadiran aparat TNI di tengah masyarakat memberikan rasa aman sekaligus memperkuat kepercayaan publik.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah komunikasi antara pemerintah desa, aparat, dan masyarakat. Berbagai aspirasi dan harapan petani dapat disampaikan secara langsung dalam suasana yang lebih cair dan kekeluargaan.
Pendamping desa Vera turut menegaskan pentingnya menjaga tradisi lokal sebagai bagian dari identitas masyarakat. Menurutnya, pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan pembangunan desa.
Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman dan lancar. Tidak ada gangguan berarti, dan seluruh rangkaian acara berjalan sesuai rencana hingga selesai.
Tradisi Mapag Sri di Desa Kendayakan menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih hidup dan dijaga dengan baik oleh masyarakat. Di tengah arus modernisasi, nilai-nilai budaya seperti ini tetap relevan sebagai fondasi kehidupan sosial.
Ke depan, kegiatan semacam ini diharapkan terus mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun aparat, agar tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga kekuatan dalam membangun desa yang mandiri dan sejahtera.
Dengan semangat kebersamaan yang terbangun, masyarakat Desa Kendayakan optimistis menghadapi musim tanam berikutnya, seraya berharap hasil panen yang melimpah dan kehidupan yang semakin sejahtera.
