Geger! 964 Keluarga di Ujunggebang Berebut Bantuan, Babinsa Peltu Heryanto 'Bekingi' Warga dari Oknum Nakal: "Satu Butir Beras Pun Tak Boleh Hilang!"
Mei 31, 2026
INDRAMAYU – Ketegangan sempat menyelimuti halaman Kantor Balai Desa Ujunggebang, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, pada Minggu pagi (31/5/2026). Sejak pukul 08.30 WIB, ratusan warga telah memadati area tersebut, membawa karung kosong dan harapan besar. Mereka adalah 964 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang antre untuk menerima Bantuan Pangan (BP) bulan Februari dan Maret tahun 2026. Di tengah kerumunan yang kian padat, sosok Peltu Heryanto, Babinsa Desa Ujunggebang, berdiri tegak mengawal proses distribusi. Tatapan matanya tajam, menyisir setiap sudut, memastikan tidak ada celah bagi oknum-oknum yang berniat memainkan bantuan rakyat kecil.
Kegiatan pendampingan hari kedua ini menjadi sorotan penting lantaran tingginya animo masyarakat di tengah tekanan ekonomi yang kian menghimpit. Setiap KPM berhak mendapatkan paket sembako berupa 20 kilogram beras dan 4 liter minyak sayur. Bagi sebagian besar warga Ujunggebang, bantuan ini bukan sekadar tambahan, melainkan penopang utama agar dapur mereka tetap mengepul di tengah harga pasar yang terus merangkak naik.
Peltu Heryanto hadir bukan hanya sebagai simbol kehadiran negara, tetapi sebagai 'tameng' bagi warga. Ia berkoordinasi erat dengan Kuwu Desa Ujunggebang, Bapak Sarjani, serta perwakilan Bulog, Bapak Riyan, dan Kaurkesra/Lebe Desa, Bapak Muflihkun. Sinergi tiga pilar ini—TNI, Pemerintah Desa, dan BUMN pangan—menciptakan sistem pengawasan berlapis yang ketat.
"Kami tidak main-main soal ini. Ini adalah hak rakyat. Saya peringatkan kepada siapa pun, jika ada tanda-tanda pengurangan timbangan, pencampuran kualitas beras, atau pungutan liar, saya akan langsung tindakan di tempat. Tidak ada ampun bagi pengkorupsi bantuan sosial," tegas Peltu Heryanto dengan nada tinggi saat memberikan arahan singkat sebelum pembagian dimulai. Pernyataan keras ini sontak membuat para petugas distribusi bekerja lebih hati-hati dan transparan.
Proses pembagian berlangsung dengan disiplin tinggi. Warga dipanggil sesuai nomor urut yang telah diverifikasi sebelumnya. Bapak Riyan dari Bulog memastikan setiap karung beras yang diserahkan adalah beras medium dengan kualitas terbaik, bukan beras afkir atau sisa gudang. Sementara itu, Bapak Muflihkun dan perangkat desa lainnya membantu mengatur alur keluar-masuk warga agar tidak terjadi desak-desakan yang berpotensi membahayakan keselamatan, terutama bagi lansia dan ibu hamil.
Salah satu penerima manfaat, Pak Daman (60), mengaku lega dengan adanya pendampingan ketat dari Babinsa. "Biasanya kami khawatir, takut dapat beras yang jelek atau timbangannya kurang. Tapi tadi dilihat sendiri sama Pak Tentara. Timbangan dicek ulang, karungnya dibuka sampel. Kami jadi tenang menerimanya," ujar Daman sambil memeluk karung beras seberat 20 kg tersebut.
Kuwu Desa Ujunggebang, Sarjani, mengungkapkan apresiasi atas dukungan penuh dari Koramil Sukra. "Kehadiran Pak Heryanto memberikan rasa aman bagi kami sebagai penyelenggara desa. Masyarakat percaya karena ada saksi mata dari TNI bahwa proses ini bersih. Ini modal kepercayaan publik yang sangat mahal harganya," katanya.
Kegiatan yang berlangsung hingga selesai tersebut berakhir dalam keadaan aman dan lancar. Tidak ada laporan kecurangan atau keributan. Namun, pesan moral dari aksi Peltu Heryanto hari ini sangat jelas: Negara hadir untuk melindungi yang lemah. Di Desa Ujunggebang, Babinsa bukan sekadar penjaga wilayah, tetapi garda terdepan keadilan sosial yang memastikan setiap butir beras bantuan sampai ke mulut mereka yang paling membutuhkan. Langkah tegas ini diharapkan menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indramayu untuk menerapkan standar integritas serupa dalam penyaluran bansos.
