Harga Sembako di Indramayu Meroket! Babinsa Serda Mashur Turun Tangan, Ungkap Fakta Mengejutkan di Toko Berkah Krangkeng
Mei 31, 2026
INDRAMAYU – Ketegangan mulai terasa di pasar tradisional dan warung-warung sembako di Kabupaten Indramayu. Di tengah harapan masyarakat akan stabilitas ekonomi pasca-lebaran, realita di lapangan justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Sebuah laporan monitoring harga yang dilakukan langsung oleh aparat kewilayahan pada Minggu pagi (31/5/2026) mengungkap lonjakan harga signifikan pada sejumlah komoditas pokok strategis. Aksi cepat tanggap ini dipimpin langsung oleh Babinsa Koramil 1610/Krangkeng, Serda Mashur, yang turun ke jalan untuk memastikan daya beli masyarakat tidak semakin terjepit oleh inflasi yang tak terkendali.
Kegiatan monitoring ini berpusat di Toko Berkah, salah satu pusat distribusi sembako terbesar di Desa Kapringan, Kecamatan Krangkeng. Serda Mashur tiba di lokasi tepat pukul 08.00 WIB, menyapa para pedagang dan pembeli sebelum memulai pencatatan harga secara detail. Kehadiran sosok berseragam loreng ini sontak menjadi perhatian warga, bukan karena ketakutan, melainkan sebagai simbol kehadiran negara yang peduli terhadap nasib rakyat kecil di tingkat akar rumput.
Hasil temuan di lapangan menunjukkan gambaran yang cukup mencolok. Dari sepuluh komoditas utama yang dipantau, hanya tiga item yang berhasil mempertahankan harga stabil, sementara sisanya mengalami kenaikan yang cukup meresahkan. Beras, sebagai makanan pokok utama, masih bertahan di angka Rp15.800 per kilogram. Demikian pula dengan minyak goreng yang tetap di posisi Rp16.000 per kilogram, serta daging ayam dan jagung yang masing-masing stabil di harga Rp38.000 dan Rp11.000 per kilogram. Kestabilan harga beras dan minyak goreng ini menjadi satu-satunya oase di tengah gersangnya kabar baik mengenai harga pangan lainnya.
Namun, kabar buruk datang dari komoditas protein hewani dan bahan bumbu dapur. Harga telur ayam tercatat melonjak menjadi Rp38.000 per kilogram. Yang lebih mengejutkan adalah harga daging sapi yang kini telah menyentuh angka psikologis Rp150.000 per kilogram. Kenaikan ini tentu menjadi pukulan telak bagi keluarga menengah ke bawah yang mengandalkan daging sapi sebagai sumber gizi tambahan.
Situasi semakin memanas ketika menelusuri harga bahan bumbu dasar. Bawang merah, yang sering menjadi indikator gejolak harga pangan, kini dibanderol hingga Rp48.000 per kilogram. Disusul oleh bawang putih di harga Rp42.000 per kilogram, gula pasir naik menjadi Rp16.000 per kilogram, dan kacang kedelai yang kini dijual seharga Rp19.000 per kilogram. Lonjakan harga pada bumbu dapur ini secara otomatis akan mendorong kenaikan harga masakan siap saji di warung-warung makan, yang akhirnya bermuara pada berkurangnya daya beli masyarakat.
Menanggapi temuan tersebut, Serda Mashur menegaskan komitmennya untuk terus memantau situasi. "Kami tidak bisa diam melihat harga-harga yang terus merayap naik. Tugas kami bukan hanya menjaga keamanan fisik, tetapi juga membantu menciptakan ketahanan pangan di wilayah binaan. Kami akan terus berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan dan Bulog untuk memastikan stok aman dan harga wajar," ujar Serda Mashur dengan nada tegas saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Serda Mashur juga menambahkan bahwa kehadiran Babinsa di pasar adalah bentuk nyata dari sistem kewilayahan yang kuat. "Dengan monitoring rutin seperti ini, kita bisa mendeteksi dini adanya permainan harga atau kelangkaan barang. Jika ada indikasi penimbunan, kami tidak akan segan-segan mengambil tindakan bersama pihak berwenang. Rakyat harus dilindungi dari spekulasi pasar yang tidak manusiawi," tambahnya.
Kegiatan monitoring yang berlangsung hingga selesai tersebut berjalan dalam keadaan tertib dan aman. Namun, pesan yang disampaikan jelas: Pemerintah, melalui aparatur teritorialnya, sedang mengawasi ketat pergerakan harga sembako. Warga Desa Kapringan dan sekitarnya kini berharap, langkah proaktif Serda Mashur dan jajarannya dapat menekan laju inflasi dan mengembalikan stabilitas harga seperti sedia kala. Jika tidak, dikhawatirkan keresahan sosial akibat mahalnya biaya hidup akan semakin sulit dibendung.
