Heboh! Petani Indramayu Masih Nekat Pakai 'Setrum' Listrik Basmi Tikus, Babinsa Serda Ikram Duwila Turun Tangan Beri Peringatan Keras di Gantar
Mei 31, 2026
INDRAMAYU – Praktik berbahaya yang mengancam nyawa kembali terungkap di wilayah pertanian Kabupaten Indramayu. Di tengah modernisasi alat pertanian, sebagian petani di Desa Mekarwaru, Kecamatan Gantar, ternyata masih mengandalkan cara primitif dan mematikan untuk membasmi hama tikus: menggunakan aliran listrik tegangan tinggi atau yang dikenal dengan istilah "nyetrum". Menanggapi fenomena mengerikan ini, Babinsa Koramil setempat, Serda Ikram Duwila, turun langsung ke sawah pada Minggu (31/5/2026) untuk memberikan edukasi tegas dan melarang keras praktik tersebut demi keselamatan jiwa para petani itu sendiri.
Kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) yang berlangsung pukul 10.00 WIB di Blok Cikandung, Desa Mekarwaru, ini dihadiri oleh Ketua Kelompok Tani Cikandung Makmur, Bapak Carta, serta Ketua RT 09, Bapak Masta. Suasana awal kegiatan yang santai berubah serius ketika Serda Ikram Duwila menyoroti tingginya risiko kecelakaan kerja di lahan pertanian akibat kelalaian dalam penanganan hama.
"Kami menemukan fakta bahwa masih ada oknum petani yang menggunakan modifikasi aliran listrik PLN atau genset untuk membunuh tikus di pematang sawah. Ini adalah tindakan bunuh diri yang terselubung," ujar Serda Ikram Duwila dengan nada tegas di hadapan puluhan anggota kelompok tani. Ia menjelaskan bahwa penggunaan listrik tanpa standar keamanan, terutama di area basah seperti sawah, memiliki risiko fatal. Satu saja kesalahan instalasi atau kabel yang terkelupas, nyawa petani bisa melayang seketika akibat tersengat listrik.
Selain isu keselamatan, Serda Ikram juga memanfaatkan momen silaturahmi ini untuk mensosialisasikan program pemerintah terkait distribusi pupuk bersubsidi. Ia menegaskan bahwa penyaluran pupuk telah disesuaikan dengan harga terbaru dan kuota yang telah ditentukan oleh Kementerian Pertanian. "Jangan mudah terprovokasi oleh kabar hoaks soal kelangkaan pupuk. Semua sudah terjadwal dan transparan. Kami minta ketua kelompok untuk mendata anggotanya dengan benar agar tidak ada yang dirugikan," jelasnya sambil menyerahkan informasi rinci mengenai mekanisme pemesanan pupuk terbaru kepada Bapak Carta.
Bapak Carta, selaku Ketua Kelompok Tani Cikandung Makmur, menyambut baik arahan dari Babinsa. Ia mengakui bahwa godaan untuk menggunakan cara instan seperti "nyetrum" memang ada karena efektivitasnya dalam membunuh tikus secara massal. Namun, setelah mendengar penjelasan risiko hukum dan keselamatan dari Serda Ikram, ia berkomitmen untuk menghentikan praktik tersebut di kelompoknya. "Kami akan sosialisasikan ulang ke semua anggota. Keselamatan petani lebih penting daripada sekadar membasmi tikus dengan cara berbahaya," ucap Carta.
Serda Ikram Duwila juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan antarpetani dalam mengelola sumber daya air dan lahan di Blok Cikandung. Dengan adanya pendampingan rutin dari Babinsa, diharapkan konflik horizontal akibat rebutan air atau batas lahan dapat diminimalisir. "TNI hadir di tengah-tengah kalian bukan untuk menggurui, tapi untuk memastikan kesejahteraan dan keamanan bapak-bapak sekalian terjaga. Mari kita bertani dengan cerdas, aman, dan sesuai aturan," pungkasnya.
Kegiatan berakhir pukul 11.30 WIB dalam keadaan aman dan kondusif. Langkah preventif Serda Ikram Duwila ini menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan humanis dan edukatif dapat mengubah perilaku masyarakat demi keselamatan bersama. Warga Desa Mekarwaru kini semakin sadar bahwa pertanian modern bukan hanya soal hasil panen, tetapi juga tentang keberlanjutan dan keselamatan manusia yang menjalaninya.
