HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Serma Sarwika dan Kopda Irwantho Galang Kekompakan Petani Sudikampiran Lewat Strategi Gropyokan Tikus Terpadu

INDRAMAYU – Ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada ketersediaan lahan dan benih, tetapi juga pada kemampuan petani dalam mengatasi serangan hama yang dapat menggagalkan panen. Menyadari urgensi tersebut, Babinsa Koramil 1607/Sliyeg, Serma Sarwika dan Kopda Irwantho, mengambil inisiatif strategis dengan menggelar kegiatan komunikasi sosial (komsos) bersama perangkat Desa Sudikampiran dan petugas pertanian. Acara yang berlangsung pada Senin (29/6/2026), pukul 09.00 WIB hingga 10.00 WIB di Aula Desa Sudikampiran, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, ini difokuskan untuk merumuskan waktu dan strategi pelaksanaan "gropyokan tikus" menjelang masa tanam kedua.

Pertemuan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci yang memiliki pengaruh langsung terhadap sektor pertanian di wilayah tersebut. Selain Serma Sarwika dan Kopda Irwantho dari TNI, hadir pula Bhabinkamtibmas Desa Sudikampiran, Bripka Mindarto, yang mewakili unsur keamanan. Dari sisi pemerintahan desa, Kuwu Bapak Somali, Lurah Bapak Walina, dan Bekel Bapak Sunadi turut hadir memberikan dukungan penuh. Kehadiran Ibu Dian Popt dari Kecamatan Sliyeg serta tokoh masyarakat setempat, Bapak H. Ruman, menambah bobot diskusi, memastikan bahwa rencana pengendalian hama ini mendapat legitimasi sosial dan teknis yang kuat.

Dalam diskusi yang intensif, para peserta sepakat bahwa gropyokan tikus bukan sekadar aktivitas membunuh hama, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk menjaga kekompakan antarpetani. Serma Sarwika menekankan bahwa serangan tikus sering kali terjadi karena kurangnya koordinasi antarpetak sawah. Jika satu petani lengah, tikus akan berpindah ke petak tetangganya. Oleh karena itu, aksi serentak sangat diperlukan untuk memutus siklus reproduksi hama tersebut secara efektif.

Kopda Irwantho menambahkan bahwa timing atau waktu pelaksanaan gropyokan sangat krusial. Kegiatan ini harus dilakukan tepat pada saat penggarapan tanah dan menjelang penanaman benih padi. Pada fase ini, tikus cenderung lebih aktif mencari makan dan membuat sarang di pematang sawah. Dengan melakukan gropyokan pada masa transisi antara tanam pertama dan kedua, populasi tikus dapat ditekan secara signifikan sebelum mereka merusak bibit padi yang baru ditanam. Hal ini diharapkan dapat mengurangi kerugian hasil panen hingga masa panen nanti.

Tujuan utama dari kegiatan ini, sebagaimana dirumuskan dalam rapat, adalah tiga poin penting: pertama, menjalin komunikasi yang erat untuk menjaga kekompakan solidaritas antarpetani Desa Sudikampiran; kedua, menekan angka serangan hama tikus sejak dini, mulai dari tahap persemaian hingga panen; dan ketiga, menumbuhkan rasa kepedulian dan saling menjaga antarsesama petani. Spirit gotong royong ini menjadi nilai tambah yang tidak ternilai harganya dalam membangun ketahanan komunitas pertanian di pedesaan.

Bripka Mindarto dari pihak kepolisian juga memberikan jaminan keamanan selama pelaksanaan gropyokan nanti, serta mengimbau agar masyarakat tetap menjaga ketertiban dan tidak menggunakan cara-cara yang dapat membahayakan lingkungan atau melanggar hukum, seperti penggunaan racun kimia berbahaya yang tidak terkontrol. Sementara itu, Kuwu Somali dan Lurah Walina berkomitmen untuk memfasilitasi logistik dan koordinasi warga agar partisipasi dalam gropyokan bisa maksimal.

Tokoh masyarakat, Bapak H. Ruman, menyambut positif langkah Babinsa ini. Menurutnya, kehadiran TNI dan Polri di tengah-tengah petani memberikan motivasi tersendiri. "Kami merasa didampingi dan tidak sendirian dalam menghadapi tantangan alam ini," ungkapnya. Ibu Dian Popt dari kecamatan juga mengapresiasi inisiatif ini sebagai bentuk konkret pendampingan teknis yang dibutuhkan oleh petani milenial maupun senior.

Kegiatan yang berlangsung selama satu jam ini berakhir dengan lancar dan aman. Kesepakatan waktu dan mekanisme gropyokan telah ditetapkan, dan para petani tampak antusias untuk segera merealisasikannya. Langkah proaktif Serma Sarwika dan Kopda Irwantho ini menjadi bukti nyata bahwa Babinsa tidak hanya bertugas sebagai pengawal keamanan, tetapi juga sebagai mitra kerja yang peduli terhadap kesejahteraan ekonomi petani melalui pendekatan humanis dan solutif. Dengan sinergi antara TNI, Polri, pemerintah desa, dan masyarakat, Desa Sudikampiran optimis dapat meraih hasil panen yang melimpah dan bebas dari gangguan hama tikus pada musim tanam kedua tahun 2026 ini.
Posting Komentar