HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Babinsa Serka Ahyadi di Cikedung: Ungkap Fakta Harga Minyak Goreng Rp20 Ribu dan Cabai Rawit Rp45 Ribu, Warga Diminta Waspada Spekulasi


INDRAMAYU – Stabilitas harga bahan pokok kembali menjadi sorotan utama di wilayah Kecamatan Cikedung. Pada Jumat (3/7/2026), Babinsa Koramil 1613/Terisi, Serka Ahyadi, melakukan inspeksi mendadak ke Kios Mila yang berlokasi di Desa Cikedunglor. Kunjungan ini bukan sekadar formalitas, melainkan upaya nyata TNI untuk memastikan bahwa harga sembako yang dijual kepada masyarakat tetap wajar dan tidak dimanipulasi oleh oknum pedagang yang memanfaatkan momen kelangkaan barang.

Hasil pemantauan Serka Ahyadi mengungkapkan data yang cukup mencengangkan bagi daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Salah satu temuan paling menonjol adalah harga minyak goreng (migor) yang kini menembus angka Rp20.000 per kilogram. Angka ini tergolong tinggi dibandingkan dengan rata-rata harga di pasar tradisional lainnya di Indramayu yang masih berkisar di angka Rp17.000. Kondisi ini tentu sangat memberatkan ibu rumah tangga, mengingat minyak goreng adalah komoditas yang digunakan setiap hari untuk memasak.

Tidak hanya minyak goreng, harga cabai rawit hijau juga terpantau melonjak tajam hingga mencapai Rp45.000 per kilogram. Lonjakan harga cabai ini biasanya dipengaruhi oleh faktor cuaca dan distribusi yang terhambat. Sementara itu, komoditas lain seperti gula putih juga mengalami kenaikan menjadi Rp18.000 per kilogram, dan bawang putih dipatok di harga Rp35.000 per kilogram. Harga-harga ini menunjukkan adanya tekanan inflasi lokal yang perlu segera diredam agar tidak merembet ke komoditas lainnya.

Meski demikian, ada beberapa kabar baik yang tercatat dalam laporan Serka Ahyadi. Harga beras masih bertahan stabil di angka Rp12.000 per kilogram, memberikan sedikit keringanan bagi anggaran belanja warga. Telur ayam juga relatif terjangkau di harga Rp29.000 per kilogram, sementara daging ayam potong berada di level Rp35.000 per kilogram. Namun, harga daging sapi masih bertengger di angka premium Rp130.000 per kilogram, menjadikannya sebagai komoditas mewah yang sulit dijangkau oleh sebagian besar warga desa.

Serka Ahyadi dalam laporannya kepada Dandim 0616/Indramayu menekankan pentingnya transparansi harga. "Kami akan terus memantau pergerakan harga di kios-kios kecil seperti Kios Mila ini, karena seringkali kenaikan harga dimulai dari tingkat pengecer sebelum masuk ke pasar induk. Kami mengimbau pedagang untuk tidak melakukan penimbunan atau menaikkan harga secara sepihak tanpa alasan yang jelas," ujarnya.

Kegiatan monitoring yang berlangsung aman dan lancar ini menjadi bukti bahwa kehadiran Babinsa di tingkat desa sangat efektif sebagai detektor dini gejolak ekonomi. Dengan data yang akurat dari lapangan, pemerintah daerah dapat mengambil langkah intervensi yang tepat, apakah melalui operasi pasar atau subsidi targeted.

Warga Desa Cikedunglor menyambut positif langkah Serka Ahyadi. Mereka merasa lebih terlindungi dari praktik permainan harga yang merugikan. Masyarakat berharap agar koordinasi antara Babinsa, Dinas Perdagangan, dan pelaku usaha dapat terus diperkuat untuk menjaga kestabilan harga, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan atau event tertentu yang biasanya memicu lonjakan permintaan. Sinergi TNI dan rakyat dalam menjaga ketahanan pangan ini adalah modal sosial yang tak ternilai harganya bagi Kabupaten Indramayu. (***)
Posting Komentar