Geger di Sawah Amis! Babinsa Serma Sanudin Keluarkan 'Peringatan Keras' Soal Ancaman Tikus, Petani Cikedung Siap Gelar Gropyokan Massal
Juli 03, 2026
INDRAMAYU – Ketegangan mulai terasa di kalangan petani Desa Amis, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu. Bukan karena konflik sosial atau bencana alam, melainkan karena ancaman nyata yang mengintai di balik rimbunnya tanaman padi: serangan hama tikus. Menyikapi hal ini, Babinsa Desa Amis, Serma Sanudin dari Koramil 1613/Terisi, mengambil inisiatif cepat dengan menggelar Komunikasi Sosial (Komsos) intensif bersama warga binaan, khususnya anggota kelompok tani, pada Jumat (3/7/2025). Pertemuan yang berlangsung di Gudang Bina Karya Tani, Blok 04 RT 02, Desa Amis ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan sebuah rapat strategis untuk menyelamatkan potensi panen raya.
Dalam laporannya kepada Dandim 0616/Indramayu, Serma Sanudin menyampaikan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah memberikan "warning" atau peringatan dini kepada para petani. Selama ini, perhatian petani sering kali hanya tertuju pada penyakit tanaman seperti jamur atau virus. Namun, Serma Sanudin mengingatkan bahwa musuh terbesar yang bisa menggagalkan panen secara masif dalam waktu singkat adalah hama tikus. "Tanaman padi tidak hanya rentan terhadap penyakit, tetapi juga sangat vulnerabel terhadap serangan tikus. Jika tidak segera ditangani, kerugian yang diderita petani akan sangat fatal," tegasnya di hadapan puluhan petani yang hadir.
Untuk mengatasi masalah ini, Serma Sanudin tidak hanya memberikan teori, tetapi juga merumuskan strategi pertempuran melawan hama tersebut. Ia mengajak para petani untuk segera melaksanakan aksi "Gropyokan Tikus" secara serentak. Metode yang direkomendasikan pun bervariasi dan disesuaikan dengan kondisi lapangan. Pertama, penggunaan racun tikus (rodentisida) yang ditempatkan di jalur lalu lintas tikus. Kedua, teknik pengasapan pada lubang-lubang sarang tikus untuk memaksa mereka keluar atau mati lemas. Ketiga, metode yang lebih tradisional namun efektif: menggali lubang sarang dan memburu tikus secara langsung menggunakan anjing pemburu.
Rencana penggunaan anjing untuk memburu tikus ini menjadi sorotan menarik dalam pertemuan tersebut. Metode ini dinilai sangat efektif untuk membersihkan populasi tikus dewasa yang sudah cerdas menghindari perangkap biasa. Dengan koordinasi yang baik antara pemilik anjing dan petani, diharapkan populasi tikus di area persawahan Desa Amis dapat ditekan secara signifikan sebelum memasuki masa pengisian bulir padi.
Kegiatan yang bertujuan menjalin silaturahmi sekaligus meningkatkan kewaspadaan ini berjalan dengan aman dan kondusif. Para petani tampak antusias dan sepakat untuk segera mengeksekusi rencana gropyokan tersebut. Mereka menyadari bahwa keberhasilan panen tidak hanya bergantung pada pupuk dan cuaca, tetapi juga pada ketegasan mereka dalam memberantas hama.
Langkah proaktif Serma Sanudin ini merupakan wujud nyata dari peran Babinsa sebagai pendamping petani yang tidak hanya hadir saat panen, tetapi juga siaga menghadapi ancaman gagal panen. Sinergi antara aparat TNI dan kelompok tani di Desa Amis menjadi modal sosial yang kuat dalam menjaga ketahanan pangan lokal. Dengan semangat gotong royong dan strategi yang tepat, petani Cikedung optimis dapat meraih hasil panen yang melimpah dan bebas dari gangguan hama tikus. (***)
