HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Geger Haurgeulis! Sertu Kusnadi Bongkar Fakta Mencekam: Daging Sapi Tembus Rp150 Ribu, Minyak Goreng dan Gula Pasir Cekik Leher Warga di Pasar Daerah


INDRAMAYU – Pagi itu, Senin 6 Juli 2026, suasana di Pasar Daerah Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, tidak sesemarak biasanya. Di balik tumpukan dagangan yang berwarna-warni, terdengar helaan napas berat para ibu rumah tangga dan pedagang kecil. Keresahan ini bukan tanpa alasan. Sebuah laporan monitoring harga kebutuhan pokok (sembako) yang dilakukan oleh Sertu Kusnadi, anggota Koramil 1615/Haurgeulis, telah mengungkap realitas pahit yang sedang menghantam daya beli masyarakat. Dengan sigap dan penuh tanggung jawab, prajurit TNI ini turun langsung ke lapangan mulai pukul 08.00 WIB untuk memverifikasi harga-harga yang kian tak terkendali, menjadi mata dan telinga bagi Dandim 0616/Indramayu di tengah gejolak ekonomi lokal.

Sertu Kusnadi tidak hanya sekadar berkeliling. Ia mencatat setiap detail harga dengan teliti, berinteraksi langsung dengan pedagang grosir di sekitar pasar untuk memastikan data yang akurat. Hasilnya sungguh mengejutkan dan patut menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Sementara harga beras medium masih bertahan di angka Rp13.500 per kilogram dan jagung serta kedelai lokal relatif stabil di Rp10.000 dan Rp8.000 per kilogram, komoditas strategis lainnya mengalami kenaikan atau berada di level yang sangat memberatkan.

Kejutan terbesar datang dari sektor protein dan bahan pokok utama. Harga daging sapi melonjak drastis hingga menyentuh angka fantastis Rp150.000 per kilogram. Angka ini jelas menjauhkan daging sapi dari jangkauan mayoritas warga Haurgeulis, menjadikannya barang mewah yang hanya bisa dinikmati saat momen tertentu saja. Daging ayam pun masih relatif terjangkau di Rp32.000 per kilogram, namun telur ayam yang biasanya menjadi andalan protein murah, kini dibanderol Rp27.000 per kilogram.

Yang lebih menyakitkan adalah nasib bumbu dapur dan bahan energi. Minyak goreng, kebutuhan vital setiap dapur, terpantau di angka Rp19.000 per kilogram. Gula pasir juga meroket ke posisi Rp20.000 per kilogram. Namun, puncak ketegangan harga terjadi pada komoditas bawang. Bawang merah dan bawang putih sama-sama dibanderol di angka Rp40.000 per kilogram. Kondisi ini jelas membebani anggaran belanja harian warga Haurgeulis, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Kehadiran Sertu Kusnadi di tengah kerumunan pasar memberikan efek psikologis yang positif. Para pedagang merasa diawasi agar tidak melakukan permainan harga spekulatif, sementara warga merasa ada pihak yang memperjuangkan kepentingan mereka. "Kami hadir untuk memastikan transparansi. Jika ada penimbunan atau rekayasa harga, kami akan tindak tegas bersama instansi terkait," implisit tersirat dari sikap tegas namun humanis yang ditunjukkan Sertu Kusnadi. Ia mendengarkan keluhan para pedagang tentang mahalnya harga bahan baku dari supplier, memahami bahwa mereka juga terjepit di tengah rantai pasok yang rumit.

Selama kegiatan monitoring berlangsung, situasi Pasar Daerah Haurgeulis terpantau aman dan tertib. Tidak ada gesekan atau kerusuhan, justru terjalin dialog yang konstruktif antara Babinsa, pedagang, dan pembeli. Sertu Kusnadi berhasil menjaga kondusivitas wilayah sambil mengumpulkan intelijen sosial yang vital. Data yang ia bawa pulang adalah bukti nyata bahwa stabilitas harga bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan nyawa bagi kelangsungan hidup ribuan keluarga di Kecamatan Haurgeulis.

Laporan ini menjadi sinyal bahaya bagi Pemkab Indramayu. Kenaikan harga pada komoditas strategis seperti daging sapi, minyak, gula, dan bawang menunjukkan adanya tekanan inflasi yang sistemik. Diperlukan intervensi cepat, apakah melalui operasi pasar, subsidi transportasi, atau penegakan hukum terhadap distributor nakal. Sertu Kusnadi telah melakukan bagiannya dengan sempurna; kini giliran pemangku kebijakan untuk bertindak.

Aksi monitoring oleh Sertu Kusnadi ini menegaskan kembali peran strategis TNI dalam pembinaan wilayah. Di era 2026, di mana ketidakpastian ekonomi global semakin tinggi, kehadiran babinsa di pasar tradisional adalah benteng terakhir kepercayaan publik. Warga Haurgeulis kini tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi himpitan biaya hidup. Melalui kerja keras Sertu Kusnadi, suara rakyat kecil didengar, dan harapan akan kestabilan harga tetap terjaga. Semoga langkah ini memicu aksi nyata demi kesejahteraan rakyat Indramayu yang lebih adil dan merata.
Posting Komentar