Gempita di Sawah Sliyeg! Danramil Lettu Anton Susilo Pimpin Aksi "Gropyok" Massal, 50 Petani Sleman Lor Bersatu Basmi Hama Tikus dengan Strategi Klerat
Juli 03, 2026
INDRAMAYU – Ancaman gagal panen akibat serangan hama tikus yang kian meresahkan petani di Desa Sleman Lor, Kecamatan Sliyeg, akhirnya mendapat respons cepat dan tegas dari aparat kewilayahan. Pada Jumat (3/7/2026), sebuah aksi kolosal bertajuk "Gropyokan Hama Tikus" digelar di tengah hamparan persawahan desa setempat. Di bawah komando langsung Danramil 1607/Sliyeg, Lettu Cke Anton Susilo, S.Kom., puluhan petani bersama unsur Muspika turun ke sawah untuk memburu dan membasmi sarang-sarang tikus menggunakan metode pemberian racun Klerat dan pengisian lubang.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB ini bukan sekadar operasi pembersihan hama biasa, melainkan bentuk nyata kepedulian TNI terhadap ketahanan pangan masyarakat. Lettu Anton Susilo hadir bersama anggotanya, bersinergi penuh dengan Camat Sliyeg, Bpk. Opik Hidayat, S.Sos., Kapolsek Sliyeg AKP Edi Mulyana, S.H., serta Kuwu Desa Sleman Lor, Bpk. Dukis Suhiro. Kehadiran para pejabat tingkat kecamatan ini memberikan semangat tersendiri bagi sekitar 50 orang kelompok tani dan petani yang turut serta dalam aksi tersebut.
Metode yang digunakan dalam gropyokan kali ini cukup strategis. Para petani dibimbing oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) untuk mengidentifikasi lubang aktif tikus. Bpk. H. Kartijah dari BPP Kecamatan Sliyeg dan Ibu Dian sebagai POPT memberikan arahan teknis mengenai dosis penggunaan Klerat yang aman namun efektif, serta teknik mengisi lubang dengan racun agar uapnya menyebar ke seluruh lorong sarang tikus. Hal ini bertujuan untuk memastikan populasi tikus berkurang secara signifikan tanpa merusak ekosistem sawah secara berlebihan.
"Tujuan utama kami hari ini adalah mendengarkan langsung keluhan petani terkait kendala musim tanam, sekaligus mengambil tindakan nyata mengurangi populasi tikus yang mengancam produktivitas padi," ungkap Lettu Anton Susilo di sela-sela kegiatan. Ia menekankan bahwa peningkatan hasil panen hanya bisa dicapai jika faktor penghambat seperti hama dapat ditekan seminimal mungkin. Sinergi antara Babinsa, penyuluh, dan petani menjadi kunci keberhasilan program ini.
Suasana di areal persawahan Desa Sleman Lor tampak hidup dan penuh semangat gotong royong. Para petani dengan dipandu oleh anggota Koramil dan Polsek bekerja sama menggali lubang, memasukkan umpan beracun, dan menutup kembali sarang tikus. Kegiatan ini juga menjadi momen silaturahmi dan koordinasi lapangan, di mana petani dapat menyampaikan aspirasi mereka langsung kepada Camat dan Danramil.
Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau sangat aman dan kondusif. Tidak ada gesekan atau gangguan berarti, justru terlihat kekompakan yang solid antara aparat keamanan dan warga binaan. Langkah proaktif yang diambil oleh Koramil 1607/Sliyeg ini patut diapresiasi sebagai model penanganan hama terpadu yang melibatkan partisipasi masyarakat luas.
Dengan berkurangnya populasi tikus berkat aksi gropyokan ini, harapan besar menggantung pada hasil panen mendatang. Petani Desa Sleman Lor kini merasa lebih optimis bahwa upaya keras mereka di musim tanam ini akan berbuah manis berupa padi yang melimpah. Komitmen Tiga Pilar di Kecamatan Sliyeg dalam menjaga stabilitas pertanian telah terbukti, menjadikan Desa Sleman Lor sebagai contoh desa tangguh dalam menghadapi ancaman gagal panen. (***)
