Gempur Budaya Perundungan, Babinsa Serka Sudono Tanamkan Karakter Anti-Bullying di SDN 4 Krangkeng
Juli 15, 2026
INDRAMAYU – Sekolah dasar seharusnya menjadi taman bermain yang aman dan menyenangkan bagi anak-anak, bukan arena ketakutan akibat perundungan atau bullying. Menyadari urgensi tersebut, Babinsa Koramil 1610/Krangkeng, Serka Sudono, mengambil inisiatif berani dengan turun langsung ke garis depan pendidikan karakter. Pada Rabu pagi, 15 Juli 2026, tepatnya pukul 08.00 WIB, SDN 4 Krangkeng di Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng, berubah menjadi medan tempur melawan kekerasan verbal dan fisik antar pelajar. Serka Sudono hadir untuk melaksanakan sosialisasi intensif bertajuk "Say No to Bully", sebuah gerakan preventif yang bertujuan membentengi mental siswa-siswi sejak dini.
Kegiatan ini bukan sekadar ceramah satu arah. Serka Sudono, dengan gaya komunikasi yang luwes dan mudah dicerna anak-anak, menyampaikan enam poin materi krusial yang menjadi pondasi pembentukan karakter siswa. Pertama, kampanye tegas "Say No Bully". Ia menjelaskan dengan contoh konkret apa itu bullying, dampaknya yang mematikan bagi korban, dan sanksi sosial maupun hukum yang menanti pelaku. Pesan ini diserap dengan serius oleh ratusan siswa yang hadir, dibuktikan dengan sikap duduk tegak dan perhatian penuh mereka.
Kedua, disiplin belajar. Serka Sudono menekankan bahwa keberhasilan akademik berbanding lurus dengan kedisiplinan. Ketiga, pentingnya ketepatan waktu. "Tidak terlambat berangkat ke sekolah" bukan hanya soal aturan, tetapi latihan menghargai waktu orang lain. Keempat, kerapian berpakaian. Seragam yang rapi mencerminkan identitas diri dan kebanggaan terhadap institusi sekolah. Kelima, etika sosial berupa menghormati guru dan menghargai teman. Ini adalah inti dari kerukunan sosial. Dan keenam, tujuan akhir dari semua poin tersebut: menjadi siswa yang disiplin dan berkarakter tangguh.
Hadir dalam kegiatan strategis ini adalah Kepala Sekolah SDN 4 Krangkeng, Bapak Vindhi Ferdiansyah, S.Pd., beserta seluruh dewan guru. Kehadiran pihak sekolah menunjukkan dukungan penuh terhadap integrasi nilai-nilai kedisiplinan militer ke dalam kurikulum sekolah dasar. Selain itu, kehadiran para wali murid menjadi elemen penting. Dengan melibatkan orang tua, pesan anti-bullying tidak berhenti di gerbang sekolah, tetapi terus bergema hingga ke ruang keluarga. Orang tua diajak untuk memantau perilaku anak di rumah dan melaporkan jika ada tanda-tanda trauma atau perubahan sikap yang mencurigakan.
Serka Sudono dalam sambutannya menyatakan bahwa pencegahan bullying adalah tanggung jawab bersama. "Anak-anak adalah aset bangsa. Jika mereka tumbuh dengan rasa takut dan tertekan, bagaimana masa depan negara ini? Kita harus putus rantai kekerasan ini mulai dari sekarang," ujarnya dengan nada tegas namun penuh kasih sayang. Pendekatan humanis ini membuat para siswa tidak merasa digurui, melainkan dilindungi.
Selama kegiatan berlangsung, situasi di lingkungan SDN 4 Krangkeng terpantau sangat tertib, aman, dan kondusif. Antusiasme siswa terlihat jelas saat sesi tanya jawab, di mana mereka berani mengungkapkan pengalaman atau ketakutan mereka terkait perundungan. Interaksi ini membuka ruang dialog yang sehat antara aparat, guru, orang tua, dan siswa.
Langkah proaktif Babinsa Serka Sudono ini patut diapresiasi sebagai model penanganan masalah sosial di tingkat akar rumput. Dengan menyasar usia dini, TNI sedang melakukan investasi jangka panjang bagi kesehatan mental generasi penerus. Di Krangkeng, jejak langkah Serka Sudono di lorong-lorong SDN 4 bukan hanya meninggalkan kesan, tetapi juga menanamkan benih keberanian untuk berkata "tidak" pada ketidakadilan. Inilah wajah TNI yang sesungguhnya: pelindung rakyat, termasuk melindungi innocence (kepolosan) anak-anak bangsa dari ancaman degradasi moral. Melalui edukasi karakter yang kuat, diharapkan SDN 4 Krangkeng dapat menjadi zona bebas bullying, tempat di mana setiap anak bisa tumbuh bahagia, cerdas, dan berakhlak mulia.
