Gerakan Massal Basmi Tikus di Sliyeg, Koramil 1607 Gandeng Petani dan Instansi Terkait demi Panen Maksimal
Juli 10, 2026
INDRAMAYU – Ancaman hama tikus yang berpotensi menggagalkan panen padi menjadi perhatian serius bagi jajaran pemerintah daerah dan aparat kewilayahan di Kecamatan Sliyeg. Sebagai respons cepat atas keluhan para petani, sebuah aksi nyata berupa "Gropyokan Hama Tikus" digelar secara serentak pada Jumat (10/7/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai ini dipusatkan di areal persawahan Blok Carik, Desa Sliyeg, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu.
Aksi pembasmian hama ini tidak dilakukan secara sporadis, melainkan melalui koordinasi lintas sektor yang melibatkan berbagai elemen penting. Koramil 1607/Sliyeg turun langsung ke lapangan dengan mengirimkan dua personel andalannya, Pelda Rastika dan Sertu Edi Chaerudin. Mereka bergabung bersama perwakilan Polsek Sliyeg yang diwakili Bripka Rudi, menunjukkan sinergi kuat antara TNI dan Polri dalam menjaga ketahanan pangan dan keamanan wilayah.
Selain aparat keamanan, kehadiran unsur pemerintahan dan teknis pertanian juga sangat kental dalam kegiatan ini. Kecamatan Sliyeg diwakili oleh Kasi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Bapak Sugeng, sementara Pemerintah Desa Sliyeg dipimpin langsung oleh Kuwu Warsito beserta para pamong desa. Dari sisi teknis pertanian, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sliyeg yang diwakili Bapak Ahmad Danuri beserta anggotanya, serta Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Ibu Dian, turut memberikan arahan metode penanggulangan yang tepat sasaran.
Metode yang digunakan dalam gropyokan kali ini adalah kombinasi pemberian umpan beracun jenis Klerat dan pengisian lubang-lubang sarang tikus dengan racun khusus. Strategi ini dipilih karena dianggap efektif untuk menekan populasi tikus yang sering bersembunyi di dalam tanah dan sulit dijangkau dengan cara konvensional. Sekitar 30 orang anggota kelompok tani dan petani individu dari Desa Sliyeg terlibat aktif dalam operasi ini, membuktikan bahwa partisipasi masyarakat adalah kunci keberhasilan pengendalian hama.
Tujuan utama dari kegiatan ini tiga fold: pertama, sebagai wadah untuk menampung dan merespons keluhan para petani terkait kendala yang mereka hadapi selama musim tanam; kedua, untuk secara drastis mengurangi populasi hama tikus di area pesawahan Desa Sliyeg; dan ketiga, yang paling utama, adalah memastikan produktivitas hasil panen padi dapat dicapai secara maksimal tanpa gangguan signifikan dari serangan hama.
Selama kegiatan berlangsung, suasana di lahan pertanian terpantau aman, tertib, dan kondusif. Tidak ada insiden negatif yang terjadi, justru semangat gotong royong terlihat jelas di wajah-wajah para peserta. Kolaborasi antara Babinsa, polisi, penyuluh pertanian, dan petani menciptakan ekosistem kerja yang solid.
Bagi para petani, kehadiran TNI dan instansi terkait di tengah sawah memberikan rasa tenang dan keyakinan bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Langkah proaktif Koramil 1607/Sliyeg ini menjadi contoh baik bagaimana pendekatan kemanunggalan TNI-Rakyat dapat diterjemahkan dalam aksi konkret yang berdampak langsung pada ekonomi masyarakat. Dengan berkurangnya hama tikus, harapan akan panen raya yang melimpah di Desa Sliyeg semakin terbuka lebar. Dokumentasi kegiatan telah dilampirkan sebagai bukti pelaksanaan tugas yang profesional dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
