Harmoni Spiritual di Mundakjaya: Babinsa Pelda Eryana dan Kuwu Hj. Dariyah Satukan Doa dalam Tradisi Bubur Sura, Wujud Nyata Pelestarian Budaya yang Menentramkan
Juli 03, 2026
INDRAMAYU – Suasana khidmat dan penuh nuansa spiritual menyelimuti Aula Balai Desa Mundakjaya, Kecamatan Cikedung, pada Jumat (3/7/2026). Tepat pukul 13.00 WIB, ratusan warga berkumpul untuk mengikuti rangkaian acara adat "Bubur Sura", sebuah tradisi tahunan yang sarat dengan makna syukur dan permohonan keselamatan. Dalam momen penting ini, kehadiran Babinsa Desa Mundakjaya, Pelda Eryana dari Koramil 1613/Terisi, bersama Kuwu Desa Hj. Dariyah, menjadi simbol kuat bahwa pelestarian budaya lokal adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah desa, aparat kewilayahan, dan masyarakat.
Acara Bubur Sura bukan sekadar ritual memasak dan membagikan bubur, melainkan sebuah perenungan mendalam bagi warga Mundakjaya. Tradisi yang biasanya digelar pada bulan Sura (Muharram) dalam kalender Jawa-Islam ini bertujuan untuk membersihkan diri, memperkuat tali silaturahmi, dan memohon agar desa senantiasa dijauhkan dari marabahaya serta diberikan keberkahan rezeki. Pelda Eryana hadir tidak hanya sebagai pengawas keamanan, tetapi sebagai bagian integral dari komunitas yang turut menghormati nilai-nilai leluhur. Sikap rendah hati dan partisipasi aktifnya dalam doa bersama menunjukkan wajah TNI yang humanis dan dekat dengan akar budaya rakyat.
Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh kunci desa, termasuk Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Bpk. H. Ir Rakan dan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Bpk. Sudarman, S.Pd. Kehadiran mereka alongside Kuwu Hj. Dariyah menegaskan dukungan penuh perangkat desa terhadap agenda kebudayaan ini. Para tokoh ini berperan penting dalam memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Bubur Sura dapat dipahami dan diamalkan oleh generasi muda, sehingga tidak punah tergerus arus modernisasi.
Dalam sesi doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh dan tokoh agama setempat, lantunan ayat suci dan mantra-mantra kebaikan bergema memenuhi ruangan. Warga tampak khusyuk, menyatukan harapan agar tanaman padi di sawah-sawah Mundakjaya subur, ternak sehat, dan seluruh keluarga dilindungi dari penyakit. Pelda Eryana dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat yang masih konsisten menjaga tradisi ini. "Kami mendukung penuh kegiatan positif seperti ini. Selain mempererat persaudaraan, tradisi Bubur Sura juga menjadi media edukasi moral bagi anak-anak kita tentang rasa syukur dan kepedulian sosial," ujarnya singkat.
Selama kegiatan berlangsung dari siang hingga selesai, situasi terpantau sangat tertib, aman, dan lancar. Tidak ada gangguan berarti, justru suasana dipenuhi dengan rasa saling menghargai dan ketenangan batin. Interaksi antara Babinsa, Kuwu, dan warga berlangsung hangat, menciptakan iklim kondusifitas yang sangat diperlukan untuk pembangunan desa yang berkelanjutan.
Tradisi Bubur Sura di Desa Mundakjaya adalah bukti nyata bahwa Islam dan budaya lokal dapat berjalan beriringan secara harmonis di tanah Indramayu. Dengan adanya pendampingan dari unsur TNI seperti Pelda Eryana, tradisi ini semakin memiliki landasan keamanan dan legitimasi sosial yang kuat. Semoga semangat kebersamaan dan spiritualitas yang dibangun melalui acara ini dapat terus terjaga, menjadikan Desa Mundakjaya sebagai contoh desa yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga kaya akan nilai-nilai kemanusiaan dan kearifan lokal. (***)
