HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

MPLS Berwajah Militer di MTs Khairu Ummah: Serka Sudono Babinsa Koramil 1610/Krangkeng Gempur Budaya Bullying, Cetak Siswa Disiplin dan Berkarakter


INDRAMAYU – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di MTs Khairu Ummah, Blok Tegal Semaya, Desa Singakerta, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, terasa berbeda pada Jumat pagi, 17 Juli 2026. Tidak ada kesan kaku atau membosankan yang biasanya melekat pada kegiatan orientasi siswa baru. Sebaliknya, suasana dipenuhi semangat juang dan disiplin tinggi berkat kehadiran sosok prajurit TNI AD yang karismatik, Serka Sudono. Sebagai Babinsa Koramil 1610/Krangkeng, ia hadir bukan hanya sebagai tamu kehormatan, tetapi sebagai mentor utama yang membawa misi besar: memberantas bullying dan menanamkan karakter tangguh sejak hari pertama sekolah.

Kegiatan yang dimulai tepat pukul 08.00 WIB ini menjadi momen krusial bagi ratusan siswa-siswi baru MTs Khairu Ummah. Di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat, Serka Sudono tampil dengan seragam lorengnya yang khas, memberikan materi sosialisasi yang sangat dibutuhkan di era digital ini. Ia secara tegas mendeklarasikan perang terhadap segala bentuk perundungan atau bullying di lingkungan sekolah. "Sekolah adalah rumah kedua kalian. Di sini, kita belajar untuk saling melindungi, bukan saling menyakiti. Say No to Bully adalah harga mati," tegas Serka Sudono dengan suara lantang yang menggugah semangat para siswa.

Dalam sesi MPLS yang dipimpinnya, Serka Sudono tidak hanya berbicara tentang larangan kekerasan. Ia menguraikan enam pilar utama pembentukan karakter siswa yang ideal. Pertama, komitmen kuat untuk menolak bullying. Kedua, pentingnya disiplin belajar sebagai fondasi prestasi. Ketiga, kedisiplinan waktu dengan selalu tepat hadir di sekolah. Keempat, penampilan yang rapi dan sopan sebagai cerminan identitas pelajar. Kelima, sikap hormat mutlak kepada guru dan rasa saling menghargai antar teman sebaya. Dan keenam, tujuan akhir dari semua upaya tersebut adalah melahirkan generasi siswa yang disiplin, berakhlak, dan berkarakter kuat.

Kehadiran Serka Sudono dalam MPLS ini mendapat sambutan hangat dari pimpinan yayasan dan sekolah. Ketua Yayasan Khairu Ummah, Bapak H. Amir, serta Kepala Sekolah MTs Khairu Ummah, Bapak H. Ruswanto, hadir langsung mendampingi jalannya acara. Mereka menyatakan bahwa kolaborasi dengan Babinsa adalah langkah strategis untuk memperkuat pendidikan karakter. "Kami membutuhkan figur seperti Bapak Serka Sudono untuk menegakkan disiplin. Materi yang beliau sampaikan sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi remaja saat ini," ujar H. Ruswanto sambil mengapresiasi antusiasme para dewan guru dan panitia MPLS yang turut hadir.

Para siswa terlihat sangat fokus menyimak setiap arahan dari Serka Sudono. Metode penyampaian yang lugas, tegas, namun tetap humanis membuat materi mudah diserap. Tidak ada celah bagi siswa untuk bersikap acuh tak acuh. Suasana kegiatan berlangsung sangat tertib, aman, dan kondusif hingga selesai. Interaksi antara Babinsa dan siswa berjalan dua arah, menciptakan dinamika pembelajaran yang hidup dan bermakna.

Melalui kegiatan MPLS ini, Serka Sudono berhasil mengubah persepsi siswa tentang disiplin. Disiplin bukan lagi sesuatu yang menakutkan, melainkan kunci keberhasilan dan kebanggaan. Pesan-pesan moral tentang penghormatan kepada guru dan kasih sayang antar teman menjadi benih-benih kebaikan yang ditanamkan di hati para pelajar muda.

Keberhasilan pelaksanaan MPLS di MTs Khairu Ummah ini menjadi bukti nyata sinergi positif antara institusi pendidikan dan aparat kewilayahan. Serka Sudono, melalui perannya sebagai Babinsa Koramil 1610/Krangkeng, telah menunjukkan bahwa TNI hadir untuk membina, bukan hanya mengamankan. Dengan bekal wawasan kebangsaan dan disiplin militer yang disuntikkan selama MPLS, siswa-siswi MTs Khairu Ummah kini siap menghadapi tahun ajaran baru dengan mental baja dan hati yang bersih dari niat jahat. Ini adalah awal baru bagi pendidikan karakter di Krangkeng, di mana bullying tidak lagi memiliki tempat, dan disiplin menjadi budaya utama.
Posting Komentar