Serka Sudono Temukan Anomali di Pasar Singakerta: Beras Turun, Tapi 9 Sembako Lain Melonjak!
Juli 08, 2026
INDRAMAYU – Pagi hari di Pasar Singakerta, Desa Singakerta, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, pada Rabu (08/07/2026), diselimuti suasana yang cukup menegangkan bagi para pelaku usaha dan konsumen. Di tengah keramaian transaksi jual beli, Serka Sudono, anggota Koramil 1610/Krangkeng, melakukan inspeksi mendadak untuk memantau stabilitas harga bahan pokok. Hasil temuan Babinsa ini mengungkap sebuah realitas ekonomi yang kontras: sementara harga beras mengalami penurunan yang menggembirakan, sembilan komoditas strategis lainnya justru mencatatkan kenaikan harga yang signifikan.
Kegiatan monitoring yang dimulai pukul 08.00 WIB ini menjadi sorotan penting bagi masyarakat Krangkeng. Serka Sudono bergerak dari satu kios ke kios lain, memverifikasi label harga dan berdiskusi dengan pedagang mengenai dinamika pasokan barang. Temuan pertamanya adalah kabar baik bagi kantong rakyat: harga beras medium terpantau turun ke level Rp 12.000 per kilogram. Penurunan ini menjadi oase di tengah gersangnya daya beli masyarakat, menunjukkan bahwa distribusi beras dari pemerintah atau produsen masih berjalan cukup efektif di wilayah tersebut. Minyak goreng juga masih bertahan di angka stabil Rp 17.000 per kilogram, memberikan sedikit kelegaan bagi ibu rumah tangga.
Namun, euforia penurunan harga beras segera diredam oleh deretan kenaikan harga pada komoditas lainnya. Serka Sudono mencatat adanya tekanan inflasi yang kuat pada sektor protein dan bumbu dapur. Telur ayam, sumber protein termurah, kini dibanderol Rp 32.000 per kilogram, naik dari periode sebelumnya. Daging ayam pun ikut terseret naik menjadi Rp 36.000 per kilogram. Yang lebih mencolok adalah harga daging sapi yang tetap tinggi di angka Rp 130.000 per kilogram, menegaskan bahwa protein hewani premium masih menjadi barang mewah bagi sebagian besar warga.
Tekanan harga juga terasa sangat berat pada kelompok bumbu dapur. Bawang merah melonjak ke Rp 40.000 per kilogram, sementara bawang putih menembus angka Rp 42.000 per kilogram. Kenaikan dua komoditas ini biasanya berdampak domino pada harga masakan di warung-warung kecil. Tidak hanya itu, gula pasir yang sebelumnya stabil, kini naik menjadi Rp 16.000 per kilogram. Bahkan, komoditas alternatif seperti jagung dan kacang kedelai juga tidak luput dari kenaikan, masing-masing berada di harga Rp 11.000 dan Rp 19.000 per kilogram.
Fenomena "beras turun, lainnya naik" ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai rantai pasok di Kecamatan Krangkeng. Apakah kenaikan ini disebabkan oleh faktor musim, biaya transportasi, atau adanya permainan tengkulak? Serka Sudono dalam laporannya menekankan bahwa meskipun terjadi fluktuasi harga, situasi di pasar tetap berjalan tertib dan aman. Tidak ada aksi protes atau penimbunan barang yang terlihat secara kasat mata selama kegiatan monitoring berlangsung.
Kehadiran Serka Sudono di Pasar Singakerta memberikan pesan moral yang kuat kepada para pedagang untuk menjaga kewajaran harga. Data yang dikumpulkan oleh Koramil 1610/Krangkeng ini akan menjadi masukan berharga bagi Dinas Perdagangan Kabupaten Indramayu untuk melakukan intervensi pasar jika diperlukan. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak panik membeli dalam jumlah besar, karena hal tersebut justru dapat memicu kelangkaan buatan.
Laporan dari Serka Sudono ini menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi adalah pekerjaan rumah bersama. Pemerintah daerah harus sigap merespons kenaikan harga pada sembilan komoditas tersebut agar tidak mengganggu daya beli masyarakat bawah. Sementara itu, warga Krangkeng diminta untuk bijak dalam berbelanja, memanfaatkan momen harga beras yang murah, dan mencari alternatif protein lain jika harga telur dan ayam terus merangkak naik. Dengan pengawasan ketat seperti yang dilakukan Serka Sudono, harapan akan pasar yang adil dan transparan di Indramayu tetap terjaga.
