Waspada Gelombang Kenaikan Harga di Krangkeng! Babinsa Serka Sudono Sorot Lonjakan Daging Sapi dan Bumbu Dapur, Beras Satu-satunya yang Turun
Juli 03, 2026
INDRAMAYU – Ketegangan mulai terasa di pasar-pasar tradisional Kabupaten Indramayu seiring dengan adanya fluktuasi harga bahan pokok yang cukup signifikan. Kali ini, sorotan tertuju pada Pasar Singakerta di Desa Singakerta, Kecamatan Krangkeng. Pada Jumat (3/7/2026), Babinsa Koramil 1610/Krangkeng, Serka Sudono, melakukan inspeksi mendadak atau blusukan ke pusat perbelanjaan rakyat tersebut untuk memantau langsung stabilitas harga sembilan bahan pokok (sembako). Hasil pantauannya mengejutkan: sebagian besar komoditas strategis mengalami kenaikan harga, dengan daging sapi dan bumbu dapur menjadi penyumbang inflasi terbesar.
Kegiatan monitoring yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB ini dilakukan Serka Sudono dengan teliti, mengecek satu per satu kios pedagang untuk memastikan harga yang dipajang sesuai dengan harga jual real di lapangan. Data yang dihimpun menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bagi daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Dari sepuluh komoditas utama yang dipantau, hanya beras yang mengalami penurunan harga, sementara sisanya justru merangkak naik.
Beras medium, yang merupakan makanan pokok utama, tercatat mengalami penurunan harga menjadi Rp12.000 per kilogram. Ini adalah kabar baik di tengah badai kenaikan harga lainnya. Namun, kegembiraan ini sedikit teredam oleh lonjakan harga pada komoditas protein dan bumbu masak. Daging sapi, misalnya, kini dibanderol dengan harga Rp130.000 per kilogram, sebuah angka yang tergolong tinggi dan berpotensi mengurangi konsumsi protein hewani berkualitas oleh warga. Demikian pula dengan daging ayam potong yang naik menjadi Rp36.000 per kilogram, serta telur ayam yang kini berada di level Rp32.000 per kilogram.
Yang lebih memprihatinkan adalah kenaikan tajam pada kelompok bumbu dapur dan bahan pendukung lainnya. Bawang merah, yang sering menjadi indikator gejolak harga pangan, kini melonjak hingga Rp40.000 per kilogram. Bawang putih juga ikut terseret naik menjadi Rp42.000 per kilogram. Kondisi ini tentu akan berdampak langsung pada biaya operasional pedagang makanan kecil dan rumah tangga. Selain itu, gula pasir naik menjadi Rp16.000 per kilogram, kacang kedelai melonjak drastis ke angka Rp19.000 per kilogram, dan jagung pun turut naik menjadi Rp11.000 per kilogram. Hanya minyak goreng yang masih bertahan stabil di harga Rp17.000 per liter.
Serka Sudono dalam laporannya kepada Dandim 0616/Indramayu menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi spekulasi. "Kenaikan yang serentak pada hampir semua komoditas, kecuali beras, perlu diwaspadai. Kami akan terus berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan dan pelaku pasar untuk memastikan tidak ada penimbunan barang yang sengaja dilakukan untuk mendongkrak harga," implikasi dari temuan di lapangan.
Meski situasi di Pasar Singakerta terpantau tertib dan aman selama kegiatan monitoring berlangsung, dinamika harga ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah. Kenaikan harga sembako yang bersifat multidimensi seperti ini dapat memicu tekanan inflasi lokal jika tidak segera diredam melalui intervensi pasar atau subsidi targeted.
Kehadiran Babinsa seperti Serka Sudono di tengah pasar menjadi eyes and ear bagi komando atas. Dengan data yang akurat dan real-time, pihak terkait dapat mengambil langkah cepat, apakah itu melalui operasi pasar murah atau pengawasan distribusi yang lebih ketat. Masyarakat Krangkeng berharap agar stabilitas harga dapat segera pulih, sehingga beban ekonomi harian mereka tidak semakin berat. Sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan pedagang pasar menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan pangan di masa yang penuh ketidakpastian ini.
