HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Mengintip Ritual 'Cimplo' di Indramayu: Babinsa Koramil 1610 Krangkeng Turun Tangan, Doa Tolak Bala dan Kebersamaan Warga Desa Tanjakan


INDRAMAYU – Di tengah hiruk-pikuk modernitas yang kian menggerus nilai-nilai tradisional, sebuah sudut kecil di Blok Panggangjero, Desa Tanjakan, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, masih setia menjaga warisan leluhur. Pada Sabtu (15/8/2026), suasana pagi yang cerah tidak hanya diisi oleh aktivitas pertanian biasa, melainkan oleh aroma khas gula merah yang mendidih dan adonan tepung yang sedang dimasak. Ini adalah momen istimewa bagi warga setempat: tradisi pembuatan "Cimplo", sebuah ritual tahunan yang dipercaya sebagai penolak bala di bulan Safar.

Yang membuat kegiatan kali ini semakin spesial adalah kehadiran sosok berseragam loreng hijau. Serka Sudono, Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari Koramil 1610/Krangkeng, tampak akrab berbaur dengan para ibu-ibu warga desa. Ia tidak datang sebagai pengawas yang kaku, melainkan sebagai bagian dari komunitas yang turut melestarikan kearifan lokal. Kehadiran Babinsa dalam kegiatan komunikasi sosial (komsos) ini menjadi bukti nyata bahwa TNI tidak hanya hadir saat ada konflik atau bencana, tetapi juga dalam momen-momen budaya yang memperkuat kohesi sosial masyarakat.

Tradisi Cimplo bukan sekadar soal kuliner. Bagi masyarakat Indramayu, khususnya di wilayah pesisir utara seperti Krangkeng, bulan Safar dalam kalender Hijriah dikenal sebagai bulan 'Bala' atau bulan yang rawan terhadap musibah. Oleh karena itu, warga menggelar ritual ini sebagai bentuk ikhtiar spiritual. "Kami percaya, dengan berbuat baik, berbagi, dan berdoa bersama, Allah akan menjauhkan kami dari segala marabahaya," ungkap salah satu warga senior yang terlibat langsung dalam pembuatan adonan.

Proses pembuatan Cimplo dimulai dengan gotong royong yang erat. Para wanita di Blok Panggangjero berkumpul, mencampur tepung beras, terigu, dan ragi dalam wadah besar. Tidak ada sekat antara satu rumah dengan rumah lainnya; semua tangan bekerja sama mengadon hingga kalis. Serka Sudono terlihat aktif berinteraksi, menanyakan perkembangan hasil panen sekaligus mendengarkan keluh kesah warga sambil sesekali membantu merapikan alat-alat masak. Interaksi santai namun bermakna ini menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat, menghilangkan jarak antara aparat militer dan rakyat.

Setelah adonan siap, proses memasak dilakukan menggunakan wajan-wajan kecil khusus. Cimplo yang matang memiliki tekstur empuk dengan rasa yang cenderung hambar atau gurih alami. Namun, keunikan Cimplo justru terletak pada cara penyajiannya. Kue bulat pipih ini wajib disiram dengan kinca, yaitu gula merah cair yang kental dan manis, serta ditaburi parutan kelapa segar. Perpaduan rasa manisnya gula merah, gurihnya kelapa, dan lembutnya Cimplo menciptakan harmoni rasa yang khas dan sulit dilupakan.

Puncak dari tradisi ini adalah momen "Irim-irim" atau berbagi. Cimplo yang telah matang tidak dinikmati sendiri oleh pembuatnya, melainkan dibungkus rapi untuk diberikan kepada tetangga, kerabat, dan bahkan orang-orang yang kurang mampu di sekitar blok. Aksi berbagi ini merupakan inti dari filosofi tradisi tersebut: sedekah sebagai pintu tolak bala. Dengan berbagi rezeki, warga berharap keberkahan akan mengalir deras dan melindungi desa dari segala bentuk bencana, baik alam maupun non-alam.

Bagi Serka Sudono, pendampingan terhadap tradisi Cimplo adalah strategi pembinaan teritorial yang efektif. "Dengan menghargai dan ikut serta dalam budaya lokal, kita membangun kepercayaan. Masyarakat merasa dihargai, dan silaturahmi antara TNI dan rakyat semakin kuat," ujarnya di sela-sela kegiatan.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut berjalan dengan sangat tertib dan kondusif. Tidak ada gesekan, hanya ada tawa, doa, dan rasa syukur. Tradisi Cimplo di Desa Tanjakan bukan hanya tentang kue, melainkan tentang identitas, ketahanan sosial, dan harapan akan kehidupan yang damai. Melalui tangan-tangan kecil yang membentuk adonan dan hati-hati yang tulus berdoa, warga Panggangjero mengirimkan pesan kuat: bahwa di era apapun, kebersamaan dan nilai-nilai luhur tetap menjadi tameng terbaik bagi keberlangsungan hidup mereka.
Posting Komentar