HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

TNI dan Petani Bergandengan Tangan! Babinsa Koptu Iwan Gerakkan "Giring Air" di Dukuhjati, Jaga Saluran Irigasi Bebas Sampah demi Panen Melimpah


INDRAMAYU – Di tengah teriknya pagi hari Kamis, 10 September 2026, suasana di Saung Poktan Jagawurian, Desa Dukuhjati, Kecamatan Krangkeng, dipenuhi oleh semangat gotong royong yang membara. Sebuah komunikasi sosial (Komsos) strategis dilaksanakan oleh Koptu Iwan, anggota Koramil 1610/Krangkeng, bersama para penjaga kelestarian lingkungan (Raksa Bumi) dan Kelompok Tani (Poktan) Jagawurian. Agenda utamanya bukan sekadar diskusi teoritis, melainkan aksi nyata: sosialisasi dan eksekusi jadwal "Giring Air" atau pengaturan aliran air irigasi secara bergiliran. Langkah ini merupakan kunci vital untuk memastikan setiap petak sawah mendapatkan asupan air yang cukup dan adil, terutama di masa-masa kritis pertumbuhan padi.

Koptu Iwan, sebagai Babinsa Desa Dukuhjati, memahami betul bahwa konflik antarpetani sering kali bermula dari sengketa air. Oleh karena itu, ia mengambil inisiatif untuk mengumpulkan para pemangku kepentingan kunci di tingkat akar rumput. Hadir dalam pertemuan penting tersebut adalah Bapak Sangid selaku Raksa Bumi, Bapak Amjad sebagai Ketua Poktan Jagawurian, serta Bapak Akmadi sebagai perwakilan warga. Keempat sosok ini mewakili seluruh elemen masyarakat pertanian di desa tersebut. Dengan pendekatan yang persuasif dan humanis, Koptu Iwan mengajak mereka untuk tidak hanya pasif menerima air, tetapi aktif mengelola distribusinya melalui sistem giring air yang tertib dan transparan.

Selain mengatur jadwal, fokus kegiatan juga ditujukan pada perawatan infrastruktur alami. Koptu Iwan menekankan pentingnya membersihkan saluran air dari tumpukan sampah dan rerumputan liar yang dapat menghambat aliran air. "Air adalah darah bagi tanaman padi. Jika salurannya tersumbat, maka sawah akan kekeringan dan panen akan gagal," pesan tegasnya. Ajakan ini disambut antusias oleh Bapak Sangid dan Bapak Amjad, yang segera mengkoordinasikan anggotanya untuk melakukan pembersihan massal. Aksi bersih-bersih ini bukan hanya soal teknis irigasi, tetapi juga bentuk rasa syukur terhadap alam dan upaya mitigasi bencana banjir atau genangan yang merugikan.

Aspek keamanan dan ketertiban juga menjadi bagian integral dari komsos ini. Koptu Iwan memberikan himbauan penting kepada Ketua Poktan dan warga agar proaktif melaporkan kepada pembina atau Bhabinkamtibmas jika terjadi kejadian menonjol di wilayahnya, seperti pencurian hasil panen, kerusakan fasilitas irigasi oleh pihak tidak bertanggung jawab, atau potensi konflik sosial akibat perebutan air. Dengan adanya jalur komunikasi yang terbuka antara petani dan aparat keamanan, potensi gangguan kamtibmas dapat ditekan seminimal mungkin. Ini adalah wujud dari konsep "Bhinneka Tunggal Ika" dalam skala mikro, di mana perbedaan kepentingan dikelola melalui dialog dan aturan yang disepakati bersama.

Selama kegiatan berlangsung dari pukul 08.30 WIB hingga selesai, situasi terpantau sangat aman, lancar, dan kondusif. Tidak ada ketegangan atau perdebatan keras, melainkan suasana kekeluargaan yang erat antara Babinsa dan petani. Dokumentasi kegiatan menunjukkan wajah-wajah cerah para peserta yang siap bekerja sama mewujudkan ketahanan pangan di Desa Dukuhjati.

Langkah Koptu Iwan ini adalah bukti nyata bahwa TNI hadir di setiap denyut nadi kehidupan rakyat, termasuk di pematang sawah. Dengan memastikan kelancaran irigasi dan kebersihan saluran air, TNI secara tidak langsung sedang mengamankan stok beras nasional. Kolaborasi antara Babinsa, Raksa Bumi, dan Poktan Jagawurian telah menciptakan model pengelolaan sumber daya air yang efektif dan berkelanjutan. Desa Dukuhjati kini melangkah lebih percaya diri menuju musim panen, dengan keyakinan bahwa air akan mengalir deras membawa berkah, berkat kerja keras dan kebersamaan seluruh warganya yang dijaga oleh TNI.
Posting Komentar