TNI Jadi Motor Penggerak Ketahanan Pangan! Babinsa Kopka Tardi Gerakkan Petani Singakerta Percepat Tanam Padi di Musim Hujan
September 09, 2026
INDRAMAYU – Di tengah tantangan global terhadap ketahanan pangan nasional, Kabupaten Indramayu kembali menunjukkan taringnya sebagai lumbung padi Jawa Barat. Kunci keberhasilan ini tidak lepas dari peran strategis Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang turun langsung ke sawah, bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai mitra kerja petani. Pada Rabu, 9 September 2026, hamparan sawah di Desa Singakerta, Kecamatan Krangkeng, menjadi saksi bisu dari sinergi luar biasa antara aparat militer dan kelompok tani lokal. Kopka Tardi, Babinsa Desa Singakerta dari Koramil 1610/Krangkeng, memimpin langsung kegiatan komunikasi sosial (Komsos) dan monitoring di area persawahan, dengan satu misi utama: memastikan percepatan tanam padi berjalan optimal seiring dengan lancarnya aliran air irigasi.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini bukan sekadar inspeksi rutin. Ini adalah aksi nyata untuk menangkap momentum musim hujan yang telah membawa berkah berupa ketersediaan air melimpah. Kopka Tardi menyadari bahwa dalam pertanian, waktu adalah segalanya. Keterlambatan beberapa hari dalam masa tanam dapat berdampak signifikan pada hasil panen akhir tahun. Oleh karena itu, ia segera berkoordinasi dengan para tokoh kunci desa, termasuk Kuwu Singakerta, Bapak Bagus Waresa SH, serta perwakilan kelompok tani seperti Bapak Wanto dan Bapak Wadira. Kehadiran mereka di pematang sawah, dengan kaki berlumpur dan semangat tinggi, mengirimkan pesan kuat bahwa pembangunan sektor agraris adalah prioritas bersama yang tidak bisa ditawar.
Fokus utama diskusi di tengah sawah tersebut adalah teknis pengelolaan air dan distribusi tenaga kerja. Dengan kondisi air irigasi yang sudah mengalir deras ke berbagai petak sawah, hambatan terbesar biasanya bukan pada kekurangan air, melainkan pada kesiapan infrastruktur sekunder dan koordinasi antar-kelompok tani agar air terdistribusi merata tanpa konflik. Kopka Tardi bertindak sebagai mediator dan fasilitator, memastikan bahwa tidak ada perebutan air yang dapat memicu ketegangan sosial. Ia juga mendorong kelompok tani untuk segera mobilisasi alat mesin pertanian (alsintan) dan tenaga kerja untuk mengolah tanah secepat mungkin. "Air sudah ada, sekarang giliran kita bekerja keras. Jangan sampai momen emas ini terlewat," demikian semangat yang dibangun oleh Babinsa setempat.
Hadir pula Bapak Walim, seorang warga yang mewakili aspirasi masyarakat bawah, memastikan bahwa suara petani kecil juga didengar dalam perencanaan tanam massal ini. Kolaborasi lima pilar—Pemerintah Desa (Kuwu), TNI (Babinsa), Kelompok Tani, dan Warga—menciptakan ekosistem pertanian yang solid. Kuwu Bagus Waresa SH memberikan dukungan administratif dan kebijakan desa, sementara Kopka Tardi memberikan pendampingan teknis dan keamanan. Bapak Wanto dan Wadira sebagai ujung tombak eksekusi di lapangan, siap mengerahkan anggota kelompoknya untuk bekerja siang malam jika diperlukan.
Selama kegiatan berlangsung, situasi di Desa Singakerta terpantau sangat aman dan kondusif. Tidak ada laporan mengenai sengketa lahan atau konflik air, berkat pendekatan preventif yang dilakukan oleh Babinsa sejak dini. Keberhasilan monitoring ini adalah bukti bahwa metode "Turba" (Turun Bawah) yang diterapkan Kodim 0616/Indramayu sangat efektif. TNI tidak menunggu masalah muncul, tetapi hadir di akar rumput untuk mencegah masalah sebelum terjadi.
Langkah Kopka Tardi di Singakerta ini merupakan bagian dari strategi besar Swasembada Pangan yang dicanangkan pemerintah pusat. Dengan mempercepat tanam di awal musim hujan, diharapkan panen raya akan terjadi pada waktu yang tepat, sehingga pasokan beras nasional tetap terjaga dan harga stabil. Petani merasa lebih percaya diri karena tahu bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Ada sosok prajurit TNI yang siap membantu mengatasi kendala logistik, keamanan, hingga koordinasi dengan dinas terkait.
Desa Singakerta kini menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kecamatan Krangkeng tentang bagaimana kolaborasi sipil-militer dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Ketika babinsa dan petani bergandengan tangan di atas lumpur sawah, maka fondasi ketahanan nasional menjadi semakin kokoh. Ini adalah wujud nyata dari cinta tanah air: bukan hanya dengan mengangkat senjata, tetapi juga dengan menanam padi untuk memberi makan bangsa. Kodim 0616/Indramayu terus membuktikan bahwa mereka adalah garda terdepan dalam setiap aspek kehidupan rakyat, termasuk dalam menjamin piring nasi yang penuh dan berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia.
