HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Waduk Cipancuh Berstatus Waspada, Koramil Haurgeulis Petakan Wilayah Rawan Banjir di Indramayu


INDRAMAYU – Kondisi Waduk Cipancuh di Desa Situraja, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, tercatat berada pada status Waspada pada Jumat (30/1/2025) pagi. Data pemantauan yang dilakukan oleh jajaran Koramil 1615/Haurgeulis menunjukkan tinggi muka air (TMA) waduk mencapai 28,73 meter di atas permukaan laut (MSL), dengan volume air sebesar 8.487.274,32 meter kubik.

Waduk Cipancuh diketahui menerima aliran dari sejumlah sungai, di antaranya Sungai Cipancuh, Sungai Cikeludan, Sungai Cihoe, Sungai Ciseseupan, dan Sungai Cibiuk. Kondisi cuaca saat pemantauan berlangsung dilaporkan mendung, sementara tren tinggi muka air terpantau stabil.

Berdasarkan klasifikasi peringatan dini, status Waspada berada pada rentang TMA 28,12 hingga kurang dari 28,86 MSL. Sementara itu, status Siaga akan berlaku jika TMA mencapai 28,86 hingga kurang dari 29,60 MSL, dan status Awas apabila TMA melebihi atau sama dengan 29,60 MSL. Meski saat ini kondisi waduk dinyatakan aman dan terkendali, aparat kewilayahan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir.

Jajaran Koramil 1615/Haurgeulis juga telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak banjir apabila terjadi peningkatan debit air secara signifikan atau kemungkinan jebolnya tanggul waduk. Wilayah rawan tersebut meliputi beberapa kecamatan di Kabupaten Indramayu.

Di Kecamatan Gantar, desa yang berpotensi terdampak antara lain Desa Situraja dan Desa Gantar. Sementara di Kecamatan Haurgeulis, desa rawan meliputi Desa Haurkolot, Haurgeulis, Mekarjati, Cipancuh, Sumbermulya, dan Sidadadi.

Potensi kerawanan juga mencakup Kecamatan Kroya, yakni Desa Jayamulya, Temiyang Sari, dan Sumberjaya. Di Kecamatan Anjatan, wilayah yang masuk dalam peta rawan banjir antara lain Desa Wanguk, Salamdarma, Kedungwungu, Lempuyang, dan Kopyah.

Selanjutnya, di Kecamatan Bongas terdapat sejumlah desa yang berpotensi terdampak, yakni Desa Cipedang, Sidamulya, Cipaat, Bongas, Kertajaya, Kertamulya, Margamulya, dan Plawangan. Di Kecamatan Gabus Wetan, desa rawan meliputi Drunten Kulon dan Drunten Wetan. Sementara di Kecamatan Kandanghaur, wilayah rawan banjir meliputi Desa Pranti, Curug, Soge, Eretan Kulon, Bulak, Parean Girang, Ilir, Kertawinangun, dan Eretan Wetan.

Komandan Koramil 1615/Haurgeulis melalui laporan resminya menyebutkan bahwa pemantauan kondisi waduk dilakukan secara rutin sebagai bagian dari kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi, khususnya pada musim hujan. Aparat TNI bersama pemerintah daerah dan instansi terkait terus melakukan koordinasi guna mengantisipasi potensi dampak banjir terhadap masyarakat.

“Pemantauan tinggi muka air dan kondisi waduk dilakukan secara berkala untuk memastikan kesiapsiagaan personel dan masyarakat di wilayah rawan. Jika terjadi peningkatan debit air, langkah-langkah antisipatif akan segera dilakukan,” demikian isi laporan tersebut.

Langkah kesiapsiagaan yang dilakukan meliputi pemetaan daerah rawan, koordinasi dengan perangkat desa, serta peningkatan kesiapan personel kewilayahan untuk membantu evakuasi warga apabila situasi memburuk. Aparat juga mengimbau masyarakat yang bermukim di sekitar bantaran sungai dan waduk untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat curah hujan tinggi berlangsung dalam waktu lama.

Waduk Cipancuh sendiri merupakan salah satu infrastruktur vital pengendali air di wilayah Indramayu bagian barat dan sekitarnya. Selain berfungsi sebagai sumber irigasi pertanian, waduk ini juga berperan dalam pengendalian banjir. Oleh karena itu, kondisi tanggul dan volume tampungan air menjadi faktor krusial dalam mitigasi bencana.

Hingga laporan ini disusun, situasi di sekitar Waduk Cipancuh terpantau aman dan tidak terdapat laporan gangguan signifikan. Namun, status waspada yang ditetapkan mengharuskan seluruh pihak terkait untuk tetap siaga dan tidak lengah terhadap potensi perubahan kondisi cuaca dan debit air.

Pemerintah daerah bersama TNI dan instansi teknis diharapkan terus memperkuat sistem peringatan dini serta sosialisasi kepada masyarakat, guna meminimalkan risiko kerugian apabila terjadi bencana banjir.

Posting Komentar