HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Doa di Tengah Huma Tebu: Sinergi APTRI, Pemkab, dan TNI-Polri di Loyang Cikedung, Panen Raya PG Jatitujuh Diprediksi Melimpah!


INDRAMAYU – Aroma manis tebu yang mulai matang bercampur dengan hembusan angin pagi di Desa Loyang, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu. Pada Sabtu, 30 Mei 2026, suasana khidmat dan penuh harap menyelimuti Blok Kesambi, sebuah area perkebunan tebu yang menjadi tumpuan harapan ratusan petani. Di sinilah, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Wilayah Kerja Pabrik Gula (PG) Jatitujuh menggelar tradisi "Selamatan Kebun Tebu", sebuah ritual syukur sekaligus doa bersama menjelang musim giling raya. Kegiatan monitoring strategis ini dihadiri oleh jajaran elite pertanian daerah, manajemen pabrik gula, serta unsur Forkopimcam, menandakan betapa vitalnya komoditas tebu bagi ekonomi wilayah Indramayu.

Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini bukan sekadar seremonial adat, melainkan forum konsolidasi kekuatan antara petani, pemerintah, dan industri. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Ketua DPD APTRI Jawa Barat, Bapak H. Ali (Sekjen), yang membawa pesan penting dari pusat mengenai perlindungan hak-hak petani tebu rakyat. Kehadirannya disambut antusias oleh sekitar 50 petani tebu APTRI Desa Loyang yang menjadi tulang punggung produksi di wilayah tersebut. Mereka mendengarkan dengan saksama setiap arahan yang disampaikan, menyadari bahwa solidaritas organisasi adalah kunci untuk menghadapi dinamika harga dan kebijakan pabrik.

Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kabupaten Indramayu diwakili oleh Ibu Hj. Nurbaeti, sementara Administratur KPPH Indramayu, Bapak Kuspriadi, juga turut hadir. Keduanya menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendukung revitalisasi lahan tebu dan memastikan ketersediaan bibit unggul serta pupuk bersubsidi. "Tebu adalah komoditas strategis. Kami akan pastikan tidak ada hambatan birokrasi yang menghambat kesejahteraan petani," tegas perwakilan Kadistan.

Sementara itu, General Manager PG Jatitujuh, Bapak Dedi Wahyu, memberikan jaminan transparansi dalam proses timbang dan pembayaran hasil panen. Kehadiran GM pabrik gula langsung di tengah petani memiliki efek psikologis yang sangat positif, membangun kepercayaan bahwa kemitraan antara petani dan pabrik berjalan adil dan saling menguntungkan. Ketua DPC APTRI Jatitujuh, Bapak Wirya Taruna, menambahkan bahwa sinergi yang baik antara anggota APTRI dan manajemen PG Jatitujuh telah terbukti meningkatkan produktivitas tonase tebu per hektare dalam beberapa tahun terakhir.

Unsur keamanan dan kewilayahan juga tampil menonjol dalam kegiatan ini. Camat Cikedung, Bapak Dadang Supriatna, S.IP., M.Si., memimpin koordinasi lintas sektor, didampingi oleh Danramil 1613/Terisi yang diwakili oleh Kopda Saep, serta Kapolsek Cikedung yang diwakili oleh Bripka Wixi. Kehadiran Kopda Saep dan Bripka Wixi menjamin situasi kondusif selama acara berlangsung, sekaligus menunjukkan bahwa aparat TNI dan Polri siap mengamankan setiap tahap proses panen dan pengangkutan tebu dari potensi gangguan atau pencurian. Kepala UPTD Pertanian Cikedung, Bapak Harto, dan Kepala Desa Loyang, Bapak Nono Madani, juga aktif memfasilitasi jalannya acara, memastikan aspirasi petani tersalurkan dengan baik.

Tradisi selamatan ini diakhiri dengan doa bersama agar musim giling tahun ini berjalan lancar, bebas dari cuaca ekstrem, dan menghasilkan rendemen gula yang tinggi. Suasana berlangsung aman, lancar, dan penuh kekeluargaan. Tidak ada sekat antara pejabat tinggi, manajer pabrik, aparat keamanan, dan petani kecil; semua duduk bersama di atas tikar, menyantap hidangan sederhana sambil berdiskusi tentang masa depan perkebunan tebu mereka.

Keberhasilan monitoring kegiatan Selamatan Kebun Tebu di Desa Loyang ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi multipihak adalah kunci sukses agribisnis tebu di Indramayu. Dengan dukungan penuh dari APTRI, Pemkab Indramayu, PG Jatitujuh, serta pengamanan dari TNI-Polri, para petani tebu rakyat dapat bekerja dengan tenang dan produktif. Semoga hasil panen yang akan datang membawa berkah melimpah bagi seluruh stakeholders, menjadikan Indramayu tetap sebagai salah satu produsen gula terbesar dan terpenting di Indonesia. Semangat gotong royong di Blok Kesambi, Desa Loyang, ini adalah cerminan ketahanan pangan nasional yang dibangun dari akar rumput dengan penuh kebersamaan.
Posting Komentar