HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Pantau Stabilitas Pasar, Babinsa Koramil Terisi Cek Langsung Harga Sembako di Toko Azmi


INDRAMAYU – Menjaga stabilitas ekonomi masyarakat merupakan bagian integral dari tugas pembinaan kewilayahan yang dilakukan oleh aparat TNI. Dalam upaya memastikan ketersediaan dan keterjangkauan bahan kebutuhan pokok (sembako), Babinsa Koramil 1613/Terisi secara rutin melakukan monitoring harga di pasar tradisional maupun toko-toko retail di wilayah binaannya. Langkah ini diambil untuk mendeteksi dini adanya gejolak harga yang dapat membebani daya beli masyarakat, terutama di tengah dinamika ekonomi yang fluktuatif.

Pada Rabu, 21 Juli 2026, sejak pukul 10.30 WIB, Serka Castra, anggota Koramil 1613/Terisi, turun langsung ke lapangan untuk melaksanakan kegiatan monitoring dan pengecekan harga bahan pokok. Lokasi yang menjadi fokus pengawasan kali ini adalah Toko Azmi, yang terletak di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu. Kehadiran Serka Castra di lokasi tersebut disambut baik oleh pemilik toko maupun para pembeli yang sedang bertransaksi.

Dalam laporannya kepada Komando Distrik Militer (Kodim) 0616/Indramayu, Serka Castra menjelaskan bahwa tujuan utama dari giat ini adalah untuk memverifikasi kesesuaian harga jual di tingkat pedagang dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) atau harga wajar yang berlaku di pasaran. Selain itu, monitoring ini juga bertujuan untuk memastikan stok barang tetap tersedia dalam jumlah yang memadai sehingga tidak terjadi kelangkaan yang berpotensi memicu spekulasi harga.

Berdasarkan hasil pengecekan langsung di Toko Azmi, terpantau bahwa harga sejumlah komoditas strategis berada pada kisaran yang relatif stabil, meskipun beberapa item mengalami penyesuaian seiring dengan kondisi pasokan nasional. Berikut adalah rincian harga bahan pokok yang tercatat selama kegiatan monitoring berlangsung:

Harga beras, sebagai makanan pokok utama, terpantau dijual seharga Rp13.000 per kilogram. Untuk minyak goreng (migor), harga dipatok sebesar Rp16.000 per kilogram. Sementara itu, harga telur ayam negeri berada di angka Rp30.000 per kilogram.

Untuk kategori bumbu dapur dan sayuran, terlihat adanya variasi harga yang cukup signifikan. Cabe rawit hijau tercatat memiliki harga tertinggi di antara komoditas sayur lainnya, yaitu Rp60.000 per kilogram. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor cuaca atau masa panen yang sedang berkurang di sentra produksi. Adapun cabe merah besar dihargai Rp32.000 per kilogram.

Komoditas bawang-bawangan juga menjadi perhatian. Bawang merah dijual seharga Rp36.000 per kilogram, sedangkan bawang putih sedikit lebih tinggi di angka Rp38.000 per kilogram. Gula pasir, kebutuhan penting untuk rumah tangga, tersedia dengan harga Rp18.000 per kilogram.

Sedangkan untuk protein hewani, daging ayam potong ditawarkan dengan harga Rp35.000 per kilogram. Untuk daging sapi, yang merupakan komoditas dengan nilai ekonomi lebih tinggi, harganya terpantau stabil di angka Rp145.000 per kilogram. Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan inflasi di sektor tertentu, pasokan di tingkat retailer seperti Toko Azmi masih mampu menjaga keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

Selama kegiatan monitoring berlangsung, situasi di Toko Azmi dan sekitarnya terpantau aman, tertib, dan lancar. Tidak ditemukan adanya aksi penimbunan barang atau permainan harga yang merugikan konsumen. Interaksi antara Babinsa dengan pedagang berlangsung dalam suasana kekeluargaan, di mana Serka Castra juga memberikan imbauan kepada pemilik toko untuk selalu mengutamakan kejujuran dalam berdagang dan menjaga kualitas barang yang dijual.

Kehadiran Babinsa di tengah masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai pengawas, tetapi juga sebagai mitra yang siap mendengarkan keluhan warga terkait kesulitan ekonomi. Dengan adanya monitoring rutin seperti ini, Kodim 0616/Indramayu berharap dapat memberikan rasa aman dan kepastian bagi masyarakat Terisi khususnya, bahwa kebutuhan dasar mereka tetap terjaga.

Giat ini akan terus dilanjutkan secara berkala di titik-titik perdagangan lainnya di wilayah Koramil 1613/Terisi. Sinergi antara aparat kewilayahan, pemerintah desa, dan pelaku usaha diharapkan dapat menciptakan ekosistem pasar yang sehat, transparan, dan menguntungkan semua pihak. Melalui langkah-langkah preventif seperti ini, potensi gangguan ketahanan pangan di tingkat lokal dapat diminimalisir, sehingga stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat tetap terjaga dengan baik.
Posting Komentar