Perang Total Melawan Tikus: Babinsa dan Petani Majasari Gelar 'Gropyokan' Massal, Selamatkan Panen Padi dari Ancaman Gagal
Juli 09, 2026
INDRAMAYU – Sebuah pertempuran sengit melawan hama pengganggu ketahanan pangan terjadi di areal persawahan Blok Carik, Desa Majasari, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu. Pada Kamis pagi, 8 Juli 2026, tepatnya pukul 08.00 WIB, puluhan petani bersama unsur TNI, pemerintah desa, dan penyuluh pertanian melancarkan aksi "Gropyokan Tikus" secara serentak. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas pertanian biasa, melainkan sebuah respons darurat terhadap ancaman nyata yang berpotensi menggagalkan panen raya musim ini. Dengan menggunakan racun tikus jenis Klerat dan metode pengisian lubang sarang, pasukan gabungan ini bertekad membasmi populasi tikus yang kian meresahkan.
Kehadiran Pelda Sulaeman dan Serma Sarwika dari jajaran Kodim 0616/Indramayu memberikan semangat tersendiri bagi para petani. Sinergi antara aparat militer, Kuwu Majasari Ibu Hj. Lely Aulia, serta tenaga ahli seperti BPP Ibu Tinsari dan POPT Ibu Dian, menunjukkan betapa seriusnya penanganan hama ini dilakukan. Sekitar 30 orang anggota kelompok tani dan petani individu turun langsung ke sawah, membongkar sarang-sang tikus yang tersembunyi di pematang dan guludan. Aksi ini merupakan wujud nyata dari program TNI Manunggal Bersama Rakyat dalam menjaga kedaulatan pangan di tingkat akar rumput.
Tujuan utama dari operasi gropyokan ini sangat jelas: menyelamatkan produktivitas padi. Tikus sawah dikenal sebagai hama yang sangat destruktif; mereka tidak hanya memakan bulir padi yang sedang menguning, tetapi juga merusak batang tanaman muda sehingga menyebabkan gagal panen total jika tidak dikendalikan sejak dini. Melalui kegiatan ini, para petani juga mendapatkan wadah untuk menyampaikan keluhan dan kendala teknis lainnya yang dihadapi selama musim tanam berlangsung. Forum dialog terbuka ini memungkinkan solusi cepat ditemukan, baik dari sisi teknis pertanian maupun dukungan logistik dari pemerintah desa.
Ibu Tinsari dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan Ibu Dian dari Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) memberikan arahan teknis mengenai penggunaan racun Klerat yang aman dan efektif. Mereka menekankan pentingnya memutus siklus reproduksi tikus dengan menjangkau sarang-sang induknya. Metode pengisian lubang dengan racun dipilih karena dinilai lebih tepat sasaran dibandingkan penyebaran umpan sembarangan yang sering kali termakan oleh hewan lain atau hilang terbawa air irigasi. Edukasi ini sangat krusial agar upaya pengendalian hama tidak justru menimbulkan dampak negatif bagi ekosistem sawah.
Suasana kegiatan berlangsung aman, kondusif, dan penuh semangat gotong royong. Tidak ada gesekan atau hambatan berarti selama proses pembasmian hama berlangsung. Warga terlihat antusias berpartisipasi karena mereka menyadari bahwa keberhasilan panen adalah kunci kesejahteraan ekonomi keluarga mereka. Dukungan penuh dari Kuwu Majasari, Ibu Hj. Lely Aulia, juga menjadi faktor pendorong utama mobilisasi massa yang cepat dan terorganisir. Kepemimpinan lokal yang responsif terhadap keluhan petani terbukti mampu menggerakkan sumber daya desa secara efektif.
Laporan ini disampaikan kepada Komandan Kodim 0616/Indramayu sebagai bukti komitmen Koramil dalam mendukung sektor pertanian wilayah binaannya. Dokumentasi kegiatan yang terlampir menunjukkan keseriusan semua pihak dalam menghadapi tantangan alam. Dengan berkurangnya populasi tikus di Blok Carik, harapan akan peningkatan hasil panen padi secara maksimal semakin terbuka lebar. Langkah preventif dan represif seperti gropyokan ini harus terus dipertahankan dan dijadwalkan secara berkala, mengingat hama tikus memiliki kemampuan adaptasi dan reproduksi yang sangat cepat.
Keberhasilan operasi di Desa Majasari ini diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi desa-desa lain di Kecamatan Sliyeg dan sekitarnya. Kolaborasi lintas sektor antara TNI, Pemdes, dan dinas terkait telah membuktikan efektivitasnya dalam menyelesaikan masalah klasik pertanian. Kini, mata para petani tertuju pada masa panen dengan optimisme baru, berkat kerja keras mereka hari ini yang telah membersihkan ladang dari musuh bebuyutan mereka. Ketahanan pangan nasional dimulai dari keberanian petani di garda terdepan seperti di Majasari ini.
